Kamis, 14 Mei 2026

Jejak Proklamator di Bangka

Wisma Ranggam Bangunan Kuno Bergaya Eropa

Wisma Ranggam atau sebelumnya dikenal dengan nama Pesanggrahan Muntok berlokasi di tengah permukiman penduduk ibukota Kabupaten Bangka Barat.

Tayang:
Penulis: Alza Munzi |
Bangka Pos/ Resha Juhari
Wisma Ranggam Muntok Bangka Barat 

Wisma Ranggam memang terkesan sederhana. Tapi dari sinilah cikal bakal lahirnya sebuah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, yaitu perjanjian Roem-Royen yang mengatur perdamaian Indonesia dan Belanda. Setelah proses panjang, Belanda dan Pemerintah RI sepakat melakukan gencatan senjata pada 22 Juni 1949 melalui perjanjian Roem-Royen di Jakarta pada 7 Mei 1949.

Belanda menarik kekuatan milternya dari Yogyakarta pada kurun 24-29 Juni 1949. Sekitar sepekan kemudian, 6 Juli 1949, Soekarno kembali dari pengasingannya di Muntok menuju Pangkalpinang, lalu diterbangkan ke Yogyakarta.

Upaya melalui jalur diplomasi, mencapai puncaknya pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 23 Agustus sampai 2 November 1949. Pemerintah Belanda akhirnya menandatangani pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949.

Menurut cerita yang diperoleh Edi, selama diasingkan di Wisma Ranggam, Bung Karno sering berjalan-jalan menemui penduduk.

Selain kerap menjumpai masyarakat Muntok yang bersemangat mendukung kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno juga menerima kedatangan Sultan Hamengku Buwono IX, M Roem, dan para pejabat Bijeenkomst Voor Federal Overleg/BFO, badan permusyawaratan federal bentukan Belanda. Bung Karno dan para tokoh tetap berusaha mengatur upaya perjuangan dan pergerakan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Selama berada di Muntok, Soekarno juga diketahui pernah membuat surat untuk Panglima Besar Angkatan Perang RI Jenderal Sudirman pada 23 Mei 1949 yang keberadaannya belum diketahui karena sedang bergerilya.

Syudariah (70), warga Pangkalpinang, bercerita pada masa kecil ia pernah diajak ayahnya ikut meramaikan penyambutan kedatangan Presiden Sukarno di Pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang. Syudariah cuma ingat, pesawat yang membawa Sukarno bisa mendarat di air.

"Saya belum sekolah tapi dulu orangtua sering cerita, kalau Presiden Sukarno punya anak kira-kira seusia saya yakni Megawati. Bahkan bapak saya sengaja membeli foto keluarga Sukarno bersama istri dan anak-anaknya," kata Syudariah.

Hanya saja, Syudariah tidak mengetahui persis kedatangan Sukarno lewat Pelabuhan Pangkalbalam itu terjadi pada Desember tahun 1948 atau Februari tahun 1949. (day)

Sumber: bangkapos.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved