Nama Tito itu Dicomot dari Nama Jenderal Yugoslavia, Begini Alasan Paman Tito Karnavian
Berbincang dengan paman Tito, yang keluar hanyalah pujian dan kenangan dirinya bersama Tito. Bahkan nama Tito itu diakui Sudidjo adalah...
BANGKAPOS.COM -- RENCANA Pengangkatan Komjen Tito Karnavian menjadi Kapolri ternyata menempatkan cerita tersendiri bagi sebagian masyarakat Pasar Baru Gumawang Belitang Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Provinsi Sumsel.
Sosok Tito ternyata tidak begitu asing untuk sebagian warga yang berusia diatas 50 an tahun.
Pasalnya Tito kecil sering mudik ke rumah kakeknya di Jalan Charitas Kapasan Pasar Baru Gumawang OKU Timur. Meski tidak pernah menetap di Belitang, namun wilayah Pasar Gumawang cukup akrab bagi Tito.
Setiap liburan sekolah Tito bersama orang tua, adik dan kakaknya selalu mudik ke Belitang mengunjungi Mbah Saleh, nama lengkapnya M Saleh Bin Mualim. Kini Mbah Saleh sudah almarhum dan dimakamkan di Pemakaman Umum Kamboja Desa Gumawang.
Selain melepas rindu dengan kakeknya itu, Tito juga selalu menungunjungi pamannya yakni Sudidjo. Bahkan untuk urusan tidur, Tito lebih sering tidur di rumah Sudidjo, karena saat itu rumah Sudidjo ini lebih besar dibandingkan rumah Mbah Saleh, sehingga bisa menampung Tito bersama kakak-adiknya dan orang tua.
Usia Sudidjo saat ini 77 tahun, namun saat bertemu dengn bangkapos di kediamannya di Komplek Jatran Bedilan RT 1 RW 1 Pasar Baru Gumawang, terlihat sangat antusias membicarakan kenangannya bersama Tito kecil. Bagi Sudidjo, Tito bukan sekedar keponakan, tetapi sudah seperti anaknya sendiri. Setiap ada persoalan dan aktivitas yang dijalani, Tito seringkali berkonsultasi kepada Sudidjo. Bahkan setiap Tito kecil berulang tahun selalu merayakannya di rumah Sudidjo. Maklumlah, sekitar tahun 1970 an tersebut kehidupan Sudidjo sedikit lebih baik dibandingkan oang tua Tito, yakni Achmad Saleh. Saat itu Sudidjo sudah memiliki jabatan di UPT Transmigrasi Air Sugihan Provinsi Sumsel.
“Saat itu saya agak basah lah. Maksudnya penghasilan saya cukup besarlah,” ujar Sudidjo di dampingi HM Maryono (71) tetangga Mbah Saleh kepada bangkapos, saat berbincang-bincang di rumah Sudidjo, Kamis (7/7/2016).
Kebiasaan mudik Tito ini berlanjut hingga Ia bersekolah di SMA. Rutinitas mudik ini berhenti setelah Tito menamatkan SMA. Hanya sesekali saja Tito bertandang ke Belitang ke rumah Sudidjo, tidak setiap tahun seperti yang Ia lakukan pada masa kecil.
"Terakhir Tito ke sini saat Ia berhasil menangkap Tommy Soeharto. Setelah diangkat menjadi Komandan Densus 88 sampai sekarang Tito belum main lagi ke Belitang. Mungkin karena kesibukan Dia, sehingga belum sempat lagi main ke sini," ujar Sudidjo.
Jarak rumah Mbah Saleh dengan rumah Sudidjo ini sekitar 400 meter. Rumah Mbah Saleh saat ini diurus oleh anak Sudidjo dan dijadikan tempat usaha laundry Nova Laundry. Rumah berukuran 6 m x 7 m dinding beton dan beratapkan seng ini terlihat terawat. Cat warna biru berpadu dengan warna putih pagar yang membatasi rumah dengan jalan umum, cukup mencolok dibandingkan rumah warga di kiri kanan rumah Mbah Saleh ini. Tidak jauh dari rumah Mbah Saleh ada Rumah Sakit Charitas dan SMA Xaverius.
Berbincang dengan Sudidjo, yang keluar dari bibirnya hanyalah pujian dan kenangan dirinya bersama Tito. Bahkan nama Tito itu diakui Sudidjo adalah nama pemberian dari dirinya. Saat Tito lahir pada 26 Oktober 1964 tersebut, kebetulan lagi hangat berita kedatangan Presiden Yugoslavia Jenderl Joseph Broz Tito ke Indonesia. Joseph Broz Tito adalah pemimpin Yugoslavia hingga berakhirnya Perang Dunia II. Ia dipilih oleh parlemen sebagai Presiden Yugoslavia pada 14 Januari 1953, dan masa kepresidenannya berlangsung hingga kematiannya pada 1980. Joseph Broz Tito pada tahun 1960 an tersebut sangat terkenal di Indonesia.
Bersama Presiden Soekarno, Broz Tito mendirikan Gerakan Non Blok (GNB). Broz Tito ini adalah orang biasa yang mampu meraih sukses hingga menjadi jenderal dan Presiden Yugoslavia. Kekaguman Sudidjo terhadap Joseph Broz Tito inilah yang akhirnya memberikan nama bayi saudaranya Achmad Saleh itu dengan nama Tito. Sudidjo berharap Tito kecil ponakannya itu akan menjelma seperti Jenderal Joseph Broz Tito. Sedangkan kata Muhammad dan Karnavian adalah nama yang ditambahkan ayah Tito sendiri. Jadilah bayi itu bernama M Tito Karnavian.
“Ketika saya mendapat kabar bahwa Presiden Jokowi mencalonkan Tito sebagai Kapolri, saya jadi teringat harapan saya memberikan nama Tito untuk ponakan saya itu. Rupanya apa yang dahulunya hanya sekedar harapan, eh rupanya bisa jadi kenyataan. Tito menjadi jenderal seperti Jenderal Joseph Broz Tito,” ucap Sudidjo.
Selain kenangan berkontribusi memberikan nama Tito, ada kenangan lain yang diingat Sudidjo kepada ponakannya tersebut. Menurut Sudidjo, ada yang unik dalam diri Tito. Jika sedang berjalan, langkah Tito sangat rapi dan lurus. Langkahnya lebar dan teratur, padahal kata Sudidjo langkah Tito itu tidak dibuat-buat tetapi lahir secara alami.
Untuk urusan pelajaran, dimata Sudidjo, Tito adalah anak yang sangat ulet dalam belajar. Tito tidak pernah berhenti belajar sejak hari Senin-Sabtu. Ia akan istirahat belajar jika hari Minggu atau hari libur lainnya. Pada hari minggu atau hari libur, Tito bisa tidur seharian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/paman-tito-sudidjo_20160713_083150.jpg)