Sabtu, 11 April 2026

Ini Lima Kisah Kurban yang Paling Mengharukan, Ada Pemulung dan Tukang Becak

semangat berbagi rezeki dalam ibadah kurban tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berpenghasilan lebih saja.

Editor: Iwan Satriawan
Tribun Jateng/Mamdukh Adi Priyanto
Sapi Kurban Berbobot 1,1 Ton 

BANGKAPOS.COM--Kewajiban untuk menyembelih sapi, kambing atau domba saat Idul Adha memang menjadi perintah Allah SWT kepada orang yang mampu.

Ibadah Kurban ini bertujuan untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang mampu agar bisa merayakan lebaran haji bersama-sama.

Namun ternyata, semangat berbagi rezeki dalam ibadah kurban tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berpenghasilan lebih saja.

Beberapa orang yang miskin berikut ini juga melakukan hal serupa. Meski dalam kondisi ekonomi yang sulit, mereka tetap memiliki semangat untuk berkurban saat Idul Adha.

Jika orang kaya bisa dengan mudah mengeluarkan uang untuk berkurban, maka tidak dengan lima orang ini. Mereka harus bersusah payah mengumpulkan recehan setiap harinya hingga terkumpul setelah beberapa tahun.

Keinginan mereka untuk menjadi pihak yang memberi akhirnya menginspirasi kita, bahwa Kurban bukan permasalahan miskin atau kaya. Namun mau atau tidak mencari keridhaan Allah SWT. Siapa saja mereka? Berikut ulasannya.

1. Mak Yati, Seorang Pemulung

Mak Yati (61) merupakan seorang nenek yang bekerja sebagai pemulung tebet Jakarta Selatan. Setiap hari Ia hanya berpenghasilan Rp. 25 ribu dari mengais sisa-sisa sampah warga ibukota.

Dari uang inilah Ia sisa-sisakan untuk menabung membeli hewan kurban pada Idul Adha 2012 lalu.

Mak Yati mengaku mengumpulkan uang dari Rp.1000 sampai Rp 1500 selama tiga tahun. Akhirnya dengan uang yang dikumpulkannya tersebut cukup untuk membeli dua ekor kambing untuk berkurban.

Wanita asal Madura ini mengaku memang ingin sekali melaksanakan kurban saat idul Adha. Ia merasa malu karena harus terus mengantre daging kurban saat lebaran haji.

Akhirnya pada 22 Oktober 2012 lalu, Ia berhasil membeli dua ekor kambing untuk diserahkan kepada pengurus Masjid Al Ittihad.

Pengurus masjid yang ada saat itu terkaget-kaget hingga menitikkan air mata. Maklum, Mak Yati memang dikenal karena sering memunguti sampah botol plastik di kawasan masjid tersebut.

Ternyata pengorbanan Mak Yati menabung selama tiga tahun langsung mendapat ganjaran dari Allah. Setelah kisah pengorbanannya jadi pemberitaan media, Kementerian Sosial membuatkan rumah untuk Mak Yati di kampung halamannya di Purwosari, Pasuruan, Jatim.

Rumah yang dibangun tersebut bercat putih dan hijau dengan luas tanah 100 meter persegi, dan luas bangunan 45 meter persegi.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved