Rabu, 15 April 2026

Mengenali Gejala Kejang Demam pada Anak

Pada umumnya sebagian besar kejang demam dialami bayi usia 6 bulan hingga anak umur 5 tahun.

BANGKAPOS.COM -- Si buah hati demam tinggi dan tiba-tiba kejang? Atau lebih sering kita dengar dengan kata “step”. Tentu saja hal ini bisa menimbulkan kepanikan bagi orangtua demi melihat anak kejang, terlebih disertai dengan mulut yang berbusa.

Tapi tahukah Anda, kondisi ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan.

Bahkan, kejang demam pada umumnya tidak berbahaya bila orangtua tidak panik dan melakukan tindakan awal yang tepat bila terjadi kejang demam pada si buah hati.

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh diakibatkan bukan karena proses infeksi atau kelainan di otak.

Pada umumnya sebagian besar kejang demam dialami bayi usia 6 bulan hingga anak umur 5 tahun.

Pada sebagian besar kasus, kejang demam berhubungan erat dengan demam tinggi akibat infeksi virus dan bakteri seperti infeksi telinga, radang tenggorok, infeksi pencernaan, dan lain sebagainya.

Selain itu, kejang demam pada anak juga sering terjadi pasca-imunisasi.

Faktor genetik juga meningkatkan kecenderungan terjadinya kejang demam.

Satu dari empat anak yang mengalami kejang demam memiliki riwayat anggota keluarga yang pernah mengalami kondisi ini.

Toleransi masing-masing anak terhadap demam sangatlah bervariasi.

Pada anak yang toleransinya rendah, maka demam pada suhu tubuh 38 Celcius pun sudah bisa membuatnya kejang. Sementara pada anak-anak yang toleransi lain, kejang baru dialami jika suhu badan sudah mencapai 39 Celcius atau lebih.

Beberapa ciri-ciri dan tanda klinis kejang demam pada anak, adalah kejang yang didahului proses demam terlebih dahulu, meliputi antara lain; tangan dan kaki menjadi tegang dan kaku serta diikuti dengan gerakan kejang berupa gerakan kejut dan kuat selama kurang lebih 5 menit, bola mata biasanya mendelik ke posisi atas, mulut juga mengalami kejang dengan gigi atas dan bawah berada dalam kondisi menggigi, napas dapat berhenti sejenak selama terjadi kejang, mencret dan mengompol.

Pada kejadian kejang yang berat maka kesadaran dapat sepenuhnya hilang.

Tindakan yang dapat dilakukan oleh orangtua di rumah saat anak demam, maupun bagi orangtua yang memiliki anak dengan kejang demam meliputi, antara lain:

1. Jangan Panik. Karena panik tidak membantu. Segera beri obat penurun panas begitu suhu tubuh anak melewati angka 37,5

2. Kompres dengan lap hangat (suhunya kurang lebih sama dengan suhu badan si kecil). Jangan kompres dengan air dingin, karena dapat menyebabkan “korsleting”/benturan kuat di otak antara suhu panas tubuh si kecil dengan kompres dingin tadi.

3.. Tak perlu menahan mulut si kecil agar tetap terbuka dengan mengganjal/menggigitkan sesuatu di antara giginya.

4. Miringkan posisi tubuh si kecil agar penderita tidak menelan cairan muntahnya sendiri yang bisa mengganggu pernapasannya.

5. Jangan memberi minuman/makanan segera setelah berhenti kejang karena hanya akan berpeluang membuat anak tersedak. Contoh yang sering terjadi, masih banyak oarangtua yang memberikan kopi pada anak yang sedang kejang. Orangtua beranggapan kopi, bisa langsung menghentikan kejang tersebut.

“Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian.

6. Setelah melakukan tindakan di atas, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat seperti klinik, puskesmas, rumah sakit agar dapat ditangani lebih lanjut oleh dokter dan paramedis lain.

Anak yang mengalami kejang demam dan ditatalaksana dengan cermat oleh orangtua secara statitik, 95-98% akan sembuh sempurna tanpa cacat dan tidak berpotensi menjadi epilepsi.

Pada akhir artikel ini, saya ingin memberitahukan pada orangtua, bahwa kejang demam atau step dapat dicegah maupun ditatalaksana dengan baik oleh orangtua di rumah. Semoga dapat bermanfaat bagi orangtua untuk lebih cermat pada kondisi si buah hati. (*)

Penulis : dr Ramot Pardede, RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cerpen: Aaah !

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved