Breaking News:

ITCE 2016 Membahas Tren Penguatan Harga Timah Hingga Kebocoran Akibat Penyelundupan

Sejumlah agenda penting berhasil di gelar dalam kegiatan skala internasional yang diikuti 200 peserta dari 10 negara

Penulis: Iwan Satriawan | Editor: Hendra
Bangkapos.com/Iwan Sastriawan
Megain Widjaja, Chief Executive Officer Indonesian Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) 

Laporan wartawan Bangka Pos, Iwan Satriawan

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Ajang ‎Indonesia TIN Conference & Exhibition (ITCE) 2016 yang digelar di Sofitel Nusa Dua Bali secara resmi berakhir, Selasa (20/9/2016).

Sejumlah agenda penting berhasil di gelar dalam kegiatan skala internasional yang diikuti 200 peserta dari 10 negara tersebut.

Ada beberapa isu penting yang mengemuka selama dua hari dilaksanakannya ajang ITCE yaitu penguatan harga timah dunia, menipisnya cadangan timah dunia, isu lingkungan hingga masalah penyelundupan.

Megain Widjaja, selaku Chief Executive Officer Indonesian Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) megungkapkan, poin yang dihasilkan dalam ITCE 2016 diantaranya trend penguatan harga timah yang positif dan Indonesia menjadi barometer harga timah dunia.

"Padahal LME sudah ada sejak indonesia belum merdeka, sementara kita baru tiga tahun. Dalam acara ini juga Buyer yang selama ini bertemu secara elektronik sekarang bisa ketem face to face sehingga bisa berinteraksi langsung, berdialog langsung. Para buyer dan seller bisa bertemu langsung membicarakan bisnis mereka," jelas Megain, Selasa (20/9/2016).

‎Ia menjelaskan saat ini LME Inventory atau cadangan logan timah LME keadaannya krisis dan cadangan yang dulunya di Eropa sekarang ke Asia, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand.

"Jadi bagaimana Indonesia mempertahankan volume ekpor kita. Timah batangan ekspor tergantung dua kementrian yaitu ESDM mengenai clean and clear.‎ Penurunan ekspor tiga tahun ini penurunan struktural secara bisnis. Kalau dulu jor-joran karena setiap timah yang kelar harus ada surat asal usul yang jelas," ungkapnya.

Ia mengakui memang tata niaga timah sekarang sudah jauh lebih rapi dan policy Indonesia untuk barang strategis bisa diterapkan serta benefitnya untuk Indonesia.

"Apalagi kondisi timah 15 tahun kedepan bisa habis tapi kita memikirkan kelanjutan bagi generasi kita. Bisa bayangkan 15 tahun kedepan timah udah nggak ada lagi.‎ Maka itu topik yang diusung tahun ini bagaimana membuat responsibility mining yang memikirkan lingkungan," ‎ imbuh Megain,

‎Ditanya mengenai masalah penyelundupan timah, Megain mengatakan pihaknya mendapat data dari AETI ada seperti ini, seperti itu, sementara pihaknya menyediakan platform bagi penjual dan pembeli.

"Kami ini tugasnya menyediakan platform dari penjual dan pembeli. Kalau ada penyelundupan impaknya ke kita juga. Kalau timah ilegal keluar otomatis valuenya tidak maksimal dan yang rugi otomasi negara. Ini harus jadi perhatian para pemangku kepentingan," harapnya.

Lebihlanjut ia mengatakan dipilihnya Bali sebagai tempat penyelenggaraaan ITCE 2016 karena mengambil kontek untuk mengharumkan Indonesia.

"Bangka memang daerah penghasil, tapi ini konteknya Indonesia. Tahun pertam sudah di Bangka, kedua di Jakarta dan ketiga di Bali. Untuk tahun depan kami lihat maunya peserta apa dan itu akan kita akomodir," jelas Megain.(*)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved