Rabu, 20 Mei 2026

Harga Emas

Harga Emas Anjlok 9,5 Persen, Berikut Daftar Jual Antam Hari Ini 21 Maret 2026, Cek Rinciannya

Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai mencatat penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari 14 tahun.

Tayang:
Penulis: Rusaidah | Editor: Rusaidah
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
HARGA EMAS -- Emas di Galeri 24 Pegadaian Pangkalpinang, Jumat (13/2/2026). Berdasarkan data di laman resmi Logam Mulia, harga emas hari ini untuk ukuran 1 gram masih berada di level Rp 2.893.000 per gram.  

Ringkasan Berita:
  • Kontrak emas paling aktif di Comex untuk pengiriman April 2026 ditutup melemah 0,7 persen atau turun 30,80 dollar AS ke level 4.574,90 dollar AS per ounce
  • Secara mingguan, harga emas anjlok 9,5 persen, yang menjadi penurunan persentase mingguan terbesar sejak 23 September 2011
  • Penurunan tajam tersebut menyoroti bagaimana guncangan pasar akibat konflik Iran memicu volatilitas luas di berbagai kelas aset

 

BANGKAPOS.COM – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran ikut mempengaruhi harga emas global.

Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) mencatat penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari 14 tahun. 

Melansir Kompas.com dari Marketwatch, Sabtu (21/3/2026), kontrak emas paling aktif di Comex untuk pengiriman April 2026 ditutup melemah 0,7 persen atau turun 30,80 dollar AS ke level 4.574,90 dollar AS per ounce pada Jumat (20/3/2026) waktu setempat.

Baca juga: Bertubuh Gempal dan Hidung Mancung, Polisi Sebar Tampang Ciri-ciri DPO Kasus Kekerasan Anak di Basel

Menurut Dow Jones Market Data, secara mingguan, harga emas anjlok 9,5 persen, yang menjadi penurunan persentase mingguan terbesar sejak 23 September 2011. 

Penurunan tajam tersebut menyoroti bagaimana guncangan pasar akibat konflik Iran memicu volatilitas luas di berbagai kelas aset, termasuk komoditas yang secara tradisional dipandang aman saat ketidakpastian meningkat. 

Tekanan Makroekonomi 

Head of gold and metals strategy global di State Street Investment Management, Aakash Doshi, mengatakan bahwa konflik Iran memang menambah ketidakpastian global yang secara teori seharusnya mendorong permintaan emas. 

Namun, menurut dia, logam mulia tersebut justru “terkalahkan oleh kekuatan ekonomi yang lebih luas”. 

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah potensi berakhirnya siklus penurunan suku bunga oleh bank sentral AS Federal Reserve (The Fed), bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga ke depan. 

Selain itu, penguatan dollar AS turut menjadi hambatan bagi pergerakan harga emas

Doshi juga menyoroti aksi ambil untung (profit-taking) dan penggunaan emas sebagai “liquidity sleeve to raise cash” atau sumber likuiditas oleh investor selama periode tekanan pasar. 

Direktur strategi investasi senior di US Bank Asset Management, Rob Haworth, menyebut minimnya kemajuan harga ke depan telah menekan sentimen investor dan permintaan teknikal terhadap emas.

Ia menambahkan, kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.  

Baca juga: Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis Andrie Yunus Terungkap, Satu Berpangkat Kapten

Hal ini menjelaskan mengapa logam mulia gagal mendapatkan dukungan meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah biasanya meningkatkan minat terhadap aset lindung nilai.  

Di sisi lain, data menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi yang meningkat dan pelemahan prospek pemangkasan suku bunga turut memicu tekanan pada harga emas

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved