Rabu, 15 April 2026

10 Pejabat Strategis Bulog Terlibat Kasus Penyimpangan Beras

Penyimpangan yang dilakukan oleh para pejabat Bulog beragam mulai memalsukan hasil timbangan beras hingga sengaja mengubah harga beli.

Editor: fitriadi
Bangkapos.com/Dok
Ilustrasi: Beras raskin yang sudah tidak layak makan, ditemukan oleh perangkat Desa Sadai di gudang Pasar Sadai, Kecamatan Tukak Sadai, Kabupaten Bangka Selatan, beberapa waktu lalu. 

Kasus korupsi lain juga melanda tubuh Bulog, seperti yang terjadi di ibu kota Jakarta.

Kepala Perum Bulog Regional Jakarta-Banten Agus Dwi Indiarto ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus beras impor oplosan.

Dia diduga mengoplos beras bersubsidi dan nonsubsidi antara beras impor dari Thailand dengan beras lokal Demak lalu dijual pelaku ke pasaran sebagai beras premium.

Pejabat tersebut ditangkap polisi bersama empat pelaku lainnya yang terlibat sebagai perusahaan penyalur.

Di sisi lain, Wahyu juga meminta, semua pejabat Bulog di seluruh Indonesia untuk memperhatikan kualitas beras yang dibeli dari petani.

Standar yang digariskan yaitu dengan kadar air 14 persen dan derajat sosok 100 persen.

Dengan kualitas ini, maka beras dapat bertahan meski disimpan 6 bulan lamanya di dalam gudang.

"Pencegahan korupsi dilakukan dengan cara-cara seperti itu. Supaya tidak terjadi, makanya saya minta ikuti SOP dengan integritas yang baik," tandasnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved