Minggu, 12 April 2026

Para Pemimpin Gereja di Filipina Angkat Suara 'Lawan' Duterte

Keluarga Katolik di Filipina setiap tanggal 1 November memiliki tradisi mengunjungi makam orang-orang yang mereka kasihi, menyalakan lilin, dan ...

TED ALJIBE / AFP
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. 

BANGKAPOS.COM, MANILA -- Para pemimpin gereja di Filipina kembali mengeluarkan seruan agar aksi pembunuhan terkait dengan kebijakan Presiden Rodrigo Duterte dalam pemberantasan narkoba segera dihentikan.

Baca: Farhat Abbas Balik Sindir Sebut Ahmad Dhani Kena Batunya

Seruan ini dikumandangkan, Selasa (1/11/2016), bersamaan dengan tradisi jutaan orang di Filipina dalam ritual tradisional tradisional memperingati mereka yang telah meninggal dunia.

Baca: Yusril Sebut Ahok Sudah Minta Maaf Tapi Kurang Tulus, Justru Bikin Jengkel Umat

"Kampanye berdarah" Duterte untuk membersihkan negara dari penjahat narkoba menjadi agenda dalam tradisi "All Saints' Day" tahun ini.

Keluarga Katolik di Filipina setiap tanggal 1 November memiliki tradisi mengunjungi makam orang-orang yang mereka kasihi, menyalakan lilin, dan berdoa untuk jiwa mereka.

Baca: Kapuspen TNI Sebut Jakarta, Mau Damai atau Ramai Bisa Dibuat oleh Media

Banyak orang menggunakan peringatan tahunan ini untuk mempertanyakan dan bahkan mengolok-olok kebijakan brutal mantan Wali Kota Davao tersebut.

Melalui sebuah pernyataan resmi, otoritas Gereja Katolik di Filipina kini kembali menyerukan upaya pemberantasan narkoba melalui jalan yang benar dan langkah yang sesuai.

"Kami mendukung dengan iman melalui doa bagi mereka yang tewas karena pembunuhan ekstra yudisial ini," ungkap Pastor Jerome Secillano.

Secillano menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif di kantor Humas otoritas Gereja Katolik di Filipina.

"Kami terus melanjutkan seruan kami agar aksi pembunuhan dihentikan dan mencari pelaku dengan langkah yang sesuai," kata Secillano.

Sementara itu, pastor lainnya, Angel Lagdameo dari Provinsi Iloilo juga mengeluarkan pernyataan tertulis Minggu kemarin.

Dia menegaskan, gereja tak bisa menerima pembunuhan ekstra yudisial yang telah melukai nurani sebagai manusia.

"Setiap kali ada orang tewas dibunuh tanpa melalui proses hukum, sebagian dari jiwa kita pun mati," kata dia.

"Kemanusiaan kita lenyap dan kebanggaan kita kian menyusut akibat kondisi ini," sambung Lagdameo.

Terinspirasi
Terlepas dari persoalan itu, kini di Filipina muncul promosi produk sanitasi tangan yang terinspirasi dari kebijakan Duterte.

Para pengecer produk itu menggunakan mayat palsu untuk mempromosikan produk mereka.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved