Rabu, 29 April 2026

Enam Jam Balita Sendirian Menunggu Jenazah Ibunya yang Tertimpa Longsor

Ketut Aris bocah 3,5 tahun menyaksikan kematian ibunya dan menunggui selama enam jam di dalam kamar tidur.

Editor: fitriadi
Istimewa
Bencana tanah longsor di Desa Songan, Kintamani, Bangli, Jumat (10/2/2017). 

"Jadi sekitar pagi pukul 06.30 Wita warga mulai keluar. Tapi masih belum tahu ada rumah yang tertimpa. Baru pukul 07.00 Wita pamannya dari korban keluar rumah dan ke rumah korban, dan kaget kalau melihat ada bencana itu. Anak terakhirnya Ketut Aris masih hidup. Ibu, kakak Ketut dan mertua (Gede Kembar) meninggal dunia," ucapnya, Minggu (12/2/2017).

Baca: Kok Uang Baru Belum Muncul di ATM? Ternyata Ini Penyebabnya

"Jadi sekitar enam jam anaknya laki-laki itu nungguin jenazah ibunya. Ia (Ketut Aris) duduk di kaki ibunya. Dan datang pamannya baru memanggil 'Uwak.. Uwak..' (paman.. paman)," imbuhnya.

Ia mengaku, saat kejadian suami korban tidak tinggal di rumah. Suami korban sedang menjaga ayahnya di rumah sakit.

Karena itu, korban mengajak bapak dan ibu kandungnya (mertua dari Gede Kembar) untuk menemani di rumah. Mereka tidur dalam satu kamar.

"Jadi memang hujan sudah tiga harian tidak berhenti-berhenti. Sedikit reda hujan lagi. Begitu terus. Usai meninggal, kami menitipkan jenazah korban pada pukul 12 malam di hari yang sama usai kejadian. Dan cuaca pun ekstrem, petir menggelegar tiada henti," jelasnya.

Baca: Istri Cantik Ustaz Al Habsyi Minta Cerai Setelah 11 Tahun Membina Rumah Tangga

Nyoman Putra menjelaskan, rencananya jenazah korban akan dikremasi tanggal 28 Februari mendatang.

Ia mengatakan kondisi alam memang cukup mengkawatirkan. Bahaya longsor sering terjadi di daerahnya. Namun baru kali ini memakan korban.

"Kalau longsor memang sering. Tapi yang parah ialah ada jembatan putus dan banjir. Dan semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini lagi," harapnya.

Baca: Agus-Sylvi Habiskan Rp 68,9 Miliar Untuk Kampanye, Ini Sumber Dananya

Sementara itu, Anggota DPR RI Nyoman Dhamantra tidak berkata banyak. Ia mengaku cerita dan derita warga menyayat hati.

"Cukup pilu dan tragis kejadian di Desa Awan ini," ungkapnya.

Baca: Habib Rizieq Tidak Rela Jika Bachtiar Nasir dan Munarman Ditahan

Ia sebelumnya juga menyatakan bahwa Kintamani merupakan daerah rawan longsor perlu mendapat anggaran cadangan dan identifikasi daerah rawan longsor. Sehingga antisipasi bencana bisa digalakkan.

Kemudian membuat sebuah asuransi untuk warga dan wisatawan asing atau domestik supaya tidak gagap apabila terjadi bencana. (Tribun Bali)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved