Jumat, 24 April 2026

Harga Cabe di Pulau Bangka Melambung Hingga Rp 250.000 per Kilo

Bayangkan saja sekilo cabai rawit 200 ribu, beras sekarung berat 15 kilo, hanya 195 ribu perkilo, ya mendingan kita beli beras

Penulis: Evan Saputra | Editor: Iwan Satriawan
Bangkapos/Riki Pratama
Pedagang Cabai di Pasar Toboali Miing 

"Cabai rawit kita inikan dari Jawa Timur dan Manado, sudah dua tidak hari tidak masuk," kata Jono, Senin ( 20 / 2 / 2017).

Jono mengaku, alasan mereka belum meminta pasokan cabai rawit dari dua daerah tersebut di karena harga cabai rawit di tingkat petani mahal yaitu Rp.110 ribu perkilo.

"Sudah berapa hari ini belum ada cabai masuk, karena harga di tingkat petani mahal," terangnya.

Melonjaknya harga cabe ini tak hanya terjadi di Kota Pangkalpinang saja, harga cabe rawit di Pasar Toboali pada hari Senin (20/2/2017) terpantau mencapai Rp 200 ribu per kilogram, harga ini menurut sebagian pedagang mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya mencapai Rp 250 ribu.

Miing Pedagang Cabai di Pasar Toboali mengatakan harga tersebut mengalami penurunan karena adanya pasokan cabai yang datang, sehingga membuat harga cabai sedikit menurun.

"Cabai kecil Rp 200 ribu harga itu menurun dari harga kemarin yang mencapai Rp 250 ribu perkilogramnya, ini terjadi karena ada barang datang,"jelas Miing.

Menurut Miing kenaikan dan penurun terjadi di sebabkan karena jumlah dan pasokan barang yang datang.

"Tergantung ada barang datang mungkin turun, tetapi apabila barang tidak ada naik lagi," ungkapnya.

MOU Dengan BPTP

Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Babel) terus berupaya agar kenaikan harga dapat di atasi. Salah satunya melalui MoU Ibu-Ibu PKK bersama BPPT, untuk penyedia bibit cabai rawit.

"Ibu-ibu PKK kita sudah berkerja sama dengan BPPT untuk bibit, bibit ini akan di bagikan kepada seluruh masyarakat agar di tanam di perkarangan rumah,"Kata Sekda Babel Yan Megawadi, Senin ( 20 / 2 / 2017).

Yan tak menapik jika kenaikan harga cabai ini di sebabkan Provinsi Bangka Belitung selalu bergantung dengan daerah lain, maka untuk itu, Pemprov Babel melalui dinas pertanian terus berupaya dengan menyediakan lahan-lahan untuk di tanaman, tanaman penyumbang inflasi tertinggi di Babel.

"Kita terus berupaya melepaskan diri ketergantungan pasokan cabai dari daerah lain, hal ini sudah menjadi Antensi khusus dinas pertanian," Yan.

Kepala Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Damiri mengatakan pihanya tetap mengedepankan KRPL untuk masyarakat. Selain itu ada juga kerjasama dengan BPPT untuk meningkatkan produksi cabai di provinsi ini, Senin ( 20 / 2 / 2017).

"Prgoram KRPL lah jalan, karena baru tanam sekarang lebih digalakan. Selain itu PKK juga kerjasma dengan BPPT dengan pangan, di BPPT itu kita tentang teknologi dan bibitnya, ini baru jalan," ujar Damiri.

Damiri menjelaskan untuk tahun ini pihaknya mewajibkan KRPL menanam cabai dan bawang. Hal ini untuk meningkatkan jumlah produksi dan menurunkan harga cabai.

"Program KRPL mewajibkan menanam bawang dan cabai untuk menurunkan harga. Memang harga cabai saat ini jauh diatas harga beras, kalau di toko tani indonesia kita itu harga beras perkilonya 9.000," ujarnya.(*)

Sumber: bangkapos.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved