Setelah Jadi Penulis, Dramawan dan Perupa, Mau Apa Lagi? Goenawan Mohamad: Mati, Jadi Mayat!
Di usia 75 tahun, sastrawan dan penulis Goenawan Mohamad memulai debutnya sebagai perupa.
BANGKAPOS.COM - Di usia 75 tahun, sastrawan dan penulis Goenawan Mohamad memulai debutnya sebagai perupa.
Pada pembukaan pameran sketsanya, bertajuk "Kata, Gambar," di Dia.Lo.Gue Artspace Kemang, Februari lalu, pertanyaan yang paling sering diajukan ratusan orang yang hadir ialah: "Apa yang mendorong Anda untuk menjadi perupa?"
Namun jawaban penulis seri esei Catatan Pinggir itu menjawab sederhana saja.
"Karena saya suka aja, kan saya bilang (bahwa saya) gemar menggambar," kata Goenawan.
Kegemaran itu tampaknya mendorong produktivitasnya. Sejak mulai serius menggambar pada akhir 2016 lalu, Goenawan telah menghasilkan 200 sketsa -sekitar 70 dipajang dalam pameran ini.
Goenawan sendiri mengatakan ia hanya mengikuti 'impulsnya yang terakhir.' Pria yang biasa dipanggil GM ini mengaku terinspirasi dari barang sehari-hari dan bayangan dalam pikirannya yang ia anggap menarik.
Kebebasan berpikir
Hermawan Tamzil, pemilik Dia.Lo.Gue Artspace, ialah salah satu orang yang menemukan 'bakat tersembunyi' Goenawan.
Ia mengaku pernah diam-diam menyelinap ke ruang kerja Goenawan di Salihara pada tahun 2011.
Di sana ia melihat banyak coret-coretan tangan di atas kertas, yang kemudian ia potret. "Gambarnya masih biasa sekali," kata Hermawan.
Pada tahun itu pula, beberapa sketsa Goenawan pertama kali dirilis ke publik sebagai ilustrasi dalam kumpulan sajaknya yang berjudul Don Quixote.
Sejak saat itu, Hermawan menaruh minat pada sketsa Goenawan, yang dianggapnya sangat menggambarkan karakter sang penulis, "Karya-karya dia itu mirip dengan, pasti menggambarkan karakter dia: kebebasan dia berpikir, kebebasan dia berekspresi, point of view yang menarik dalam literatur yang dia baca. Jadi itu justru sangat kaya, seperti juga tulisannya dia."
Menurut Hermawan, "kebebasan" yang diwujudkan Goenawan dalam karya-karyanya itulah yang membuatnya unik di hadapan berbagai upaya pengekangan kebebasan berekspresi belakangan ini.
"Misalnya (dalam sketsa Goenawan) ada banyak sekali tokoh komunis. Malahan ketika pameran sebelumnya di Yogyakarta sempat satu karya diturunin karena ada gambar palu arit," tuturnya.
Tiga tema
Pameran sketsa Goenawan dibagi ke dalam tiga segmen, masing-masing mewakili suatu tema.
Dalam segmen"Gambar, Atau Sajak Yang Diam", Goenawan menampilkan pertalian antara kata-kata dan gambar, yang berangkat dari konsep "sajak suasana" - puisi liris yang tidak bermaksud membuat pernyataan apapun, tapi sekadar menggambarkan sebuah suasana, contohnya "Senja di Pelabuhan Kecil" karya Chairil Anwar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/goenawan_20170305_191049.jpg)