Senin, 20 April 2026

Setelah Jadi Penulis, Dramawan dan Perupa, Mau Apa Lagi? Goenawan Mohamad: Mati, Jadi Mayat!

Di usia 75 tahun, sastrawan dan penulis Goenawan Mohamad memulai debutnya sebagai perupa.

Editor: Alza Munzi
BBC INDONESIA
Sketsa Goenawan menggambarkan kebebasan berpikir dan berekspresi, kata Hermawan Tamzil. 

Namun dalam sketsa-sketsanya, Goenawan mencoba membalik relasi itu: kata-kata hadir bukan untuk melukiskan suatu imaji, melainkan merespon visual dalam sketsa - bisa membuatnya labil atau mengukuhkannya; dan dalam beberapa kasus, kata-kata berbaur dengan gambar menjadi satu kesatuan visual karena sama sekali tidak terbaca.

Sketsa-sketsa yang ia tampilkan dalam segmen "Wajah" kebanyakan merupakan gambar paras-paras terkenal, sebagian besar teman-teman sejawatnya sendiri.

Pun demikian ia mengakui bahwa dirinya belum mahir menggambar wajah. Selain karena alasan teknis, Goenawan menganggap wajah ialah "kehadiran orang lain yang tak sepenuhnya bisa dipegang dalam genggaman".

Tema ketiga, "Yang Grotesk", mendapat ruang paling banyak dalam pameran ini.

Sketsa dalam segmen ini merupakan cara Goenawan menyalurkan hal-hal menyeramkan dalam imajinasinya.

Grotesk, atau grotesque, ialah kata dari bahasa Perancis dan Italia lama, digunakan untuk menggambarkan rupa yang jelek namun mengandung unsur aneh dan fantastis.

Demikianlah, beberapa sketsa dalam segmen ini sekilas tampak seperti coret-coretan liar - mungkin mewakili chaos dalam benak Goenawan - tetapi banyak juga yang berbentuk seperti monster, raksasa, atau wajah menyeramkan lainnya.

Segmen terakhir ini rupanya yang paling meninggalkan kesan bagi tamu istimewa malam itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani.

"Ekspresinya itu kayaknya resonate, cocok dengan pengalaman masa kecil juga."

"Jadi kalau yang disebutkan tadi impian-impian masa lalu yang mengerikan karena waktu kecil kita dahulu sering diceritakan tentang buto cakil, buto ijo lawan Timun Mas... atau kemudian tentang kuntilanak... itu connect banget dengan waktu kecil kita memang dibesarkan dengan suasana itu," kata Sri kepada wartawan.

Namun tampaknya maksud Goenawan bukan sekadar menakut-nakuti, atau setidaknya mengingatkan kita akan monster di alam bawah sadar.

Ia sekaligus mengajak kita untuk menerima yang jelek-jelek itu, dan merangkulnya. Ini terlihat pada kutipan penulis Umberto Eco dalam salah satu sketsanya, "bila keindahan itu terbatas, yang buruk tak terbatas, seperti Tuhan."

Goenawan mengatakan, melalui "Yang Grotesk", ia ingin menerabas batas antara baik dan jelek.

"Jelek dan baik itu kan... bagaimana kita melihatnya. Indah dan tidak. Jadi, batas itu sebenarnya harus diterabas.

"Kalau kita lihat wayang, terus kita lihat raksasa dalam wayang, itu jelek apa bagus? Kan indah sekali itu, ukirannya, dan sebagainya. Padahal kan wajahnya jelek. Jadi batas antara cakep dan jelek itu sangat tergantung pada keadaan dan tidak bisa digariskan dengan cepat. Saya mencoba mengingatkan hubungan ini, jangan dilupakan," katanya.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved