Selasa, 5 Mei 2026

Bubur Kacang Hijau Bergizi, Tapi yang ini Gizinya Lebih Tinggi Lagi

Meningkatkan asupan sayur dan buah sama sekali tak ada artinya jika aspek konsumsi lain yang merusak tidak ikut digusur.

Tayang:
Editor: Hendra
Shutterstock
Kacang-kacangan 

Bahkan, beberapa waktu yang lalu ada negara yang melarang produk mi instan Indonesia dengan merek yang sama untuk dijual di negara tersebut – karena ‘beberapa komposisi’ yang tidak diperkenankan masuk ke sana, hanya boleh diedarkan di Indonesia.

Padahal, di sini semua orang melahap mi instan tanpa menelisik daftar isi. Mengapa merek yang sama punya diskriminasi konsumen?

Dari sumber tambang hingga produk pangan, bangsa kita selalu dilecehkan jika ingin berdagang dalam rupa bentuk jadi alias telah diolah secara teknologi. Apakah teknologi kita masih jauh di bawah standar, ataukah hanya permainan tekan harga?

Alih-alih anak-anak kita menikmati ikan segar yang saat ini diekspor keluar utuh-utuh, mereka justru diarahkan makan biskuit dengan bahan baku terigu yang tidak tumbuh di bumi pertiwi.

Lebih mengenaskan lagi dalam salah satu demo masak di kota kecil, ibu-ibu memilih bahan baku margarin dan keju untuk pengisi kalori makanan balita.

Padahal di tempat itu telur melimpah, ikan yang kaya lemak sehat tak terhitung bahkan anak-anak sebenarnya gemar makan teri yang renyah, tapi ditakut-takuti mitos cacingan.

Jika ditanya apa yang salah dengan pendidikan gizi, maka kita perlu menengok ke kiri kanan – dari mana informasi gizi itu berasal.

Jika hanya bermodal brosur dan poster, tak heran dalam konseling gizi yang muncul adalah nasehat seperti ini,”Bu, anaknya diberi lauk dan sayur ya..”

Padahal anak yang dimaksud masih balita, punya masalah mengunyah makanan padat dan sejak bayi hanya diberi bubur susu dari kemasan instan.

Anak mustahil diberi sayur jika orangtua (dan sebagian besar tenaga kesehatan) masih percaya sayur hijau penyebab asam urat naik – tanpa mau berusaha sedikit mengecek daftar makanan tinggi purin sebagai sumber produksi asam urat.

Mustahil pula dapat meyakinkan masyarakat akan ampuhnya polifenol dan begitu banyak antioksidan sayur sebagai pencegah penyakit degeneratif dan kanker jika mind set mereka bukan tentang mencegah penyakit, tapi soal apa yang enak dimakan hari ini.

Mind set yang sama dimiliki para ABG yang ulahnya bikin pusing kepala – mulai dari permainan meregang nyawa hingga mengerjai pendatang baru atas nama perpeloncoan – yang tidak memikirkan ‘besoknya bagaimana’ yang penting hari ini ‘fun’.

Menjalankan roda kesehatan di negri ini rupanya membutuhkan upaya ekstra dan otak kinclong. Yang membuat posyandu tidak lagi identik dengan bubur kacang ijo.

Melainkan menyesuaikan pangan lokal di tiap kabupaten di tanah air dengan kehebatan gizi tak terpikirkan orang yang menyusun panduan gizi selama ini.

Sehingga orang Flores tak perlu sedih jika tidak makan nasi, karena yang mereka butuhkan sesungguhnya bernama ‘karbohidrat’.

Begitupun bubur Manado dengan daun gedi bisa menggantikan kedudukan kacang ijo di tanah Minahasa.

Sehingga, para mama di Papua bisa tersenyum lebar menyuapi ubi bakar dengan ikan ke mulut anaknya tanpa harus dicekoki pangan rafinasi yang sudah terlalu lama merusak pulau Jawa.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved