Ingat, Selama Ramadan Inilah Dia 11 Amalan Sunnah yang Jangan Sampai Ditinggalkan
dalam menjalankan ibadah di bulan ramadan ada beberapa amalan sunnah yang sering ditinggalkan
Penulis: Iwan Satriawan | Editor: Iwan Satriawan
BANGKAPOS.COM-- Tanpa terasa dalam hitungan hari , bulan Ramadan kembali datang menghampiri kita.
Kehadiran bulan Ramadan merupakan hadiah terindah bagi kaum muslimin dimanapun mereka berada, karena didalamnya kebaikan bernilai lebih bahkan dilipat gandakan, dan terdapat padanya amalan-amalan yang tidak terdapat pada bulan lainnya.
Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini hanya terjadi setahun sekali, karenanya manfaatkan momen ini sebaik mungkin, karena belum tentu di tahun berikutnya kita akan menjumpainya lagi.
Sabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa puasa pada bulan Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari)
Karenanya, marilah kita berpuasa bukan hanya sekadar untuk melepaskan kewajiban, teta[i juga jalanilah dengan penuh keimanan dan mengharap balasan hanya dari Allah, seperti yang tertulis dalam hadits di atas.
Insya Allah kita akan senang melakukannya dan tidak merasa terbebani. sehingga kita menjadi bagian dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Amalan setiap anak Adam dilipat gandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman : "Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku. Aku yang membalasnya (tanpa batasan tadi). Ia (orang yang berpuasa-red) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku". (HR. Muslim)
Nah dalam menjalankan ibadah di bulan ramadan ada beberapa amalan sunnah yang sering ditinggalkan, seperti dikutip dari kabarmakkah.com, yakni.
1. Makan sahur
Makan sahur itu disepakati oleh para ulama, hukumnya sunnah (Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 252). Mengenai anjuran makan sahur disebutkan dalam hadits, "Makan sahurlah karena sesungguhnya dalam makan sahur itu terdapat berkah." (HR. Muslim).
Kata Muhammad Al Khotib rahimahullah, waktu makan sahur dimulai dari tengah malam, lihat Al Iqna' 1: 410. Waktu sebelum itu tidak disebut makan sahur sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Al Baijuri, 1: 563.
Namun waktu makan sahur yang terbaik adalah diakhirkan, artinya masih dibolehkan makan selama belum yakin tibanya fajar shubuh. Tujuan mengakhirkan makan sahur adalah untuk lebih menguatkan badan. Mengenai sunnah mengakhirkan makan sahur di sini disebutkan dalam hadits, Dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi wa saalam bersabda, "Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka dan mengakhirkan sahur." (HR. Ahmad).
Dalil lain yang mendukung hadits di atas adalah praktek Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam makan sahur sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, Dari Anas bin Malik, Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur.
Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi pun berdiri untuk pergi shalat, lalu beliau shalat. Kami pun berkata pada Anas, "Berapa lama jarak antara waktu selesai makan sahur dan waktu pengerjaan shalat?" Beliau menjawab, "Sekitar seseorang membaca 50 ayat." (HR. Bukhari).
Ibnu Hajar berkata, "Hadits di atas menunjukkan jarak antara akhir makan sahur dan mulai shalat." (Fathul Bari, 4: 138). Ibnu Abi Jamroh mengatakan, "Hadits ini menunjukkan bahwa sahur itu sunnah untuk diakhirkan."
2. Menyegerakan berbuka puasa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/buka-puasa_20160614_111140.jpg)