Breaking News

Setiap Hari Budak Seks Ini Dipaksa Layani Tiga Pria

Keberadaan budak seks ini diketahui setelah tak kurang dari 20 perempuan mengungkap pengalaman mereka media Inggris, BBC.

Editor: fitriadi
BBC
Faith dan anaknya bisa melarikan diri setelah mendapat bantuan dari seorang tabib di hutan Somalia. 

Di hutan ini, ia diminta memasak selain melayani sekelompok laki-laki dari Somalia.

Faith hamil dan terpaksa melahirkan sendiri di hutan tanpa bantuan siapa pun.

"Nenek saya seorang dukun bayi, jadi saya sedikit tahu tentang cara melahirkan," katanya.

Faith akhirnya bisa melarikan diri setelah seorang tabib yang tengah mencari bahan ramuan tradisional melihatnya sendirian. Tabib ini memberi tahu jalan untuk keluar dari hutan.

Kini Faith dan anaknya tinggal di kota, namun masalah belum selesai karena anaknya sangat sulit beradaptasi dengan kehidupan kota. Si kecil baru bisa tidur di luar rumah dan harus dalam pelukan sang ibu.

Faith mengatakan “ia dan anaknya hidup tak ubahnya seperti binatang di hutan.”

Dipaksa hamil

Beberapa perempuan yang berbicara dengan BBC juga mengatakan mereka punya anak saat disekap selama beberapa tahun oleh al-Shabab.

Sarah, salah seorang bekas istri petempur al-Shabab mengatakan, ada program khusus dari kelompok ini untuk mendapatkan anak sebanyak mungkin dari para perempuan yang mereka sekap.

Baca: LAPAN: Awal Puasa dan Lebaran Idul Fitri 2017 Kemungkinan Besar Seragam

Langkah ini diambil setelah pola perekrutan tradisional dari luar kamp makin sulit dilakukan.

"Di kamp saya, mereka memasukkan banyak perempuan ... mereka ingin menambah anggota, jadi mereka ingin perempuan seperti kami melahirkan untuk mereka," kata Sarah.

Ia mengatakan kebanyakan dari 300 perempuan yang berada di kamp berasal dari Kenya. Beberapa di antaranya diambil sebagai istri, yang lain dipaksa menjadi budak seks.

Pemerintah Kenya mengakui persoalan ini namun pejabat di Mombasa, Evans Achoki, mengatakan tak tahu persis skalanya karena biasanya para korban perbudakan seks tak bersedia berbicara.

Sureya Harsi, pegiat Sisters Without Borders, jaringan organisasi di Kenya yang menjalankan program deradikalisasi, mengatakan, "Orang-orang takut dengan pemerintah ... mereka yang masuk ke kelompok al-Shabab baik sukarela maupun karena dipaksa sama-sama dianggap bersalah."

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved