Sabtu, 11 April 2026

Kanjeng Dimas Dipenjara, Beginilah Kehidupan Pengikutnya Hingga Rela Lakukan Hal Ini

Sayangnya, takdir berkata lain. Belum lama belajar ilmu agama, Taat Pribadi ditangkap polisi.

Editor: Hendra
Surya/Galih Lintartika
Pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi menunggu persidangan di depan pintu PN Kraksaan, Rabu (12/7/2017). 

BANGKAPOS.COM, PROBOLINGGO - Yoing, salah satu pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo tampak bersemangat saat ditemui SURYA.co.id di PN Kraksaan, Rabu (12/7/2017) siang.

Ia mengaku sudah beberapa kali hadir dalam persidangan Yang Mulia (Sebutan Taat Pribadi di padepokan).

"Seperti biasanya, saya kesini dan teman- teman untuk mendukung yang mulia. Kami berangkat dari padepokan bersama-sama, ada yang naik angkot, mobil pribadi, dan ada yang naik sepeda motor," katanya kepada SURYA.co.id.

Pengikut asal Jakarta ini sudah setahun hidup di padepokan. ia tinggal bersama istrinya di Probolinggo.

Pasca berlayar di lautan, tahun 2016 , ia memutuskan untuk memperdalam ilmu agama di padepokan ini.

Sayangnya, takdir berkata lain. Belum lama belajar ilmu agama, Taat Pribadi ditangkap polisi.

"Awalnya sempat shock, apa benar yang mulia bersalah. Tapi seiring berjalannya waktu, saya percaya kalau yang mulia tidak bersalah. Biarkan nanti dilihat hasil akhirnya saja. yang benar biarkan benar, dan yang salah biarkanlah bersalah," katanya.

Meski demikian, kata dia, aktivitas di padepokan tidak pernah berubah sedikit pun meski Taat Pribadi sedang menjalani proses hukum. Kata dia, aktivitas masih berjalan seperti sedia kala.

"Masih kok, masih berjalan. Makanya saya bertahan di padepokan, karena masih ada aktivitas di padepokan. Saya tetap bisa belajar agama kok," paparnya.

Menurut Yoing, setiap pagi, masih ada agenda salat Shubuh berjamaah, dan dilanjutkan dengan salat wajib di waktu Dhuhur, Ashar, Magrib dan Isya.

Ada juga amalan-amalan sunnah yang tetap dilakukan, semisal pengajian, dan sebagainya.

"Apa yang sudah diajarkan yang mulia tetap kami lakukan sampai sekarang. Cuma bedanya, kalau dulu ada yang membimbing, sekarang tidak ada. jadi kami sekarang mandiri, kami lakukan bersama-sama," ungkapnya.

Dikatakan Yoing, pengikut padepokan ini memiliki latar belakang sosial yang bermacam-macam.

Namun, dari situlah , mereka membuat sebuah jaringan untuk menjadi kompak.

Bahkan, ia pun menyebut berawal dari situ, para pengikut ini kuat dan bersatu untuk menjadi sebuah keluarga yang utuh.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved