Sumur Ini Digunakan Belanda untuk Membuat Garam di Zaman Penjajahan
Sumur tujuh terletak tak jauh dari Pantai Tanjung Langka. Hanya beberapa meter saja dari air laut, sumur yang berjumlah tujuh ini berada di posisi
Penulis: Evan Saputra | Editor: Teddy Malaka
BANGKAPOS.COM -- Provinsi Bangka Belitung (Babel) merupakan kepulauan yang dikelilingi laut. Namun, air laut yang begitu melimpah bagi daerah ini tak dapat dimanfaatkan menjadi garam karena salinitas dianggap tak cukup untuk memproduksi garam, Selasa (1/8/2017).
Pihak Pemprov Babel sebelumnya menyatakan air laut di daerah ini tak dapat diolah menjadi garam karena kandungan haramnya tak cukup. Namun, hal itu ternyata dapat dibantah dengan pengolahan garam yang dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda.
Koba, Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) ternyata pernah memproduksi garam. Namun pengolahan garam zaman Belanda.
Hal ini tentu dapat menjadi pemecah masalah stok dan pasokan garam di Babel. Pasalnya, jika dapat di produksi daerah akan lebih baik.
Tokoh masyarakat Koba, Ahmad Basri membenarkan hal tersebut. Menurutnya, pada era penjajahan belanda, garam pernah di produksi di Bangka Tengah.
Masih ada beberapa peninggalan pembuatan garam di Bateng yaitu terdapat tak jauh dari komplek PT Koba Tin. Beberapa di antaranya yaitu sumur tujuh dan gudang garam tempat menampung produksi garam.
Sumur tujuh terletak tak jauh dari Pantai Tanjung Langka. Hanya beberapa meter saja dari air laut, sumur yang berjumlah tujuh ini berada di posisi sejajar dan berdekatan.
"Sumur untuk proses buat garam pada zaman Belanda, itu garam belanda yang produksi. Ada gudang untuk menampungnnya tak jauh dari Sungai Marbuk, itu tempat nyimpan garam dan makanan," ujarnya.
Tokoh pembentukan Kabupaten Bateng ini mengatakan berhentinya produksi garam saat ini dikarenakan stok garam sangat banyak. Hal ini membuat produksi dihentikan disamping sudah ada pergerakan kemerdekaan.
"Garam kan sangat meluber waktu itu, kemungkinan produsen telalu tinggi jadi tidak ada lagi. Selain itu pernah dengar termasuk pelabuhan di berok, tempat penyimpanan minyak," ceritnya.
Bupati Bateng, Ibnu Saleh mengatakan pihaknya sedang menghitung untung rugi untuk produksi garam. Jika ada prospek menguntungkan maka pihaknya akan mengembangkan garam di daerah ini.
"Kita hitung dulu kalau menguntungkan kita kembangkan, tapi kalau tidak ada yang lebih baik kenapa tidak dikembangkan," ujarnya.
Ibnu menuturkan selain melihat prospek, Pemkab saat ini sedang mengkaji untuk membuat industri garam di bateng. Namun, akan mengajak para pakar untuk melakukan pengecekan.
"Memang sudah ada dari jaman dulu, kita Kaji lagi untuk industri garam untuk antisipasi kelangkaan garam, potensi garam harus melihat kadarnya tinggi atau tidak, salinitias, yodium atau tidak, akan kita survei lagi," tegasnya.
Sementara, Ketua DPRD Bateng, Algafry Rahman mengatakan potensi garam sebelumnya sudah pernah dilakukan di daerah ini. Namun, nampaknya para petani garam enggan untuk mengembangkan hal tersebut.
"Potensi garam sudah pernah mau digalakan tapi keinginan itu kenapa tidak menggiurkan orang, karena orang melihat potensi kurang. Tetapi kita lihat di NTB malah garam diolah memakai batok kelapa, ini yang belum tersentuh di kita," ujarnya.(l4)