Jumat, 29 Mei 2026

Bumi Ternyata Pernah 'Kiamat' Enam Kali, 21 Agustus Bakal Ada Kiamat Lagi?

Sebelum muncul pernyataan ini, pemahaman yang muncul adalah, selama 450 juta tahun Bumi pernah mengalami kiamat alias kematian massal sebanyak 5...

Tayang:
Ilustrasi 

RAMALAN tentang kiamat yang kebanyakan berasal dari latar belakang keagamaan sudah sering dibicarakan. Namun tak sedikit pula orang menganggap ramalan kiamat itu sesat. 

Tapi tahukah Anda, kalau Bumi ternyata penah kiamat enam kali?

Mengenai bumi ternyata penah kiamat enam kali ternyata ada buktinya. Hal itu diutarkan, oleh para ilmuwan dalam sebuah publikasi oleh Geological Society of American Bulletin baru-baru ini.

Baca: Oknum TNI Pemukul Polantas Ternyata Bermasalah, Mulai dari THTI Hingga Depresi

Sebelum muncul pernyataan ini, pemahaman yang muncul adalah, selama 450 juta tahun Bumi pernah mengalami kiamat alias kematian massal sebanyak 5 kali.

“Kiamat” keenam yang dipercaya para ilmuwan tersebut adalah peristiwa Capitanian yang terjadi pada 262 juta tahun yang lalu. David Bond, peneliti dari University of Hull, dan timnya melakukan penelitian di Spitsbergen, pulau berjarak 890 km dari pulau utama Norwegia, untuk membuktikan adanya "kiamat" keenam itu.

Baca: Teganya, Seorang Ayah di Malaysia Diduga Perkosa Putrinya 646 Kali

Mereka meneliti Kapp Starostin Formation, lapisan batuan setebal 400 meter di beberapa lokasi Spitsbergen, yang bisa memberi petunjuk tentang kondisi 27 juta tahun masa Permian Tengah, masa ketika peristiwa Capitanian diduga terjadi. Dari penelitian itu, pertama, Bond harus memastikan bahwa data dari lapisan batuan tersebut menunjukkan kesamaan dengan data adanya peristiwa Capitanian yang diambil dari wilayah tropis.

Baca: Berpose Panas, Nikita Willy Semakin Tak Terkendali di Usia 20an

Dengan menganalisis rasio isotop karbon dan stronsium serta beragam logam dan polaritas magnetik, Bond berhasil mengonfirmasi bahwa lapisan batuan tersebut menunjukkan korelasi dengan lapisan batuan di wilayah tropis. Kedua, Bond harus bisa menunjukkan adanya penurunan populasi satwa tertentu secara drastis pada waktu terjadinya kepunahan massal.

Selanjutnya, Bond menganalisis populasi moluska jenis brachiopoda dan bivalvia. Dia menunjukkan bahwa di lapisan Capitania, populasi brachiopoda mengalami penurunan hingga 87 persen. Itu merupakan petunjuk terjadinya kepunahan massal. Sementara itu, pada lapisan batuan yang lebih muda, brachiopoda kembali muncul. Namun, pasca-kepunahan massal itu, bivalvia lebih mendominasi.

“Kepunahan massal kala itu terjadi karena erupsi Emeishan Traps, kini terletak di provinsi Sichuan, Tiongkok. Erupsi melepaskan banyak karbon dioksida, membuat laut mengalami pengasaman dan kekurangan oksigen,” ujar Bond. Penelitian tentang peristiwa Capitanian dibutuhkan, sebab, sejak diketahui 20 tahun lalu, peristiwa itu belum dikategorikan sebagai kematian massal.

Baca: Tak Disangka, Restoran Seafood Ini Beri Diskon Kepada Pelanggan Wanita Berdasarkan Ukuran Bra

Sebelumnya, ada kematian massal yang lebih besar berpaut 12 juta tahun dari peristiwa Capitanian. Peristiwa itu disebut Kiamat Permian Akhir dan memusnahkan 96 persen spesies di muka Bumi. Karena terpaut singkat, sering kali Captanian dan Permian Akhir dianggap satu. Lantaran belum banyak diteliti dan minim bukti dampak, Capitanian juga sering dianggap hanya kiamat regional, bukan global.

Dari penelitian tersebut, Bond yakin bahwa Capitanian merupakan peristiwa yang terpisah dengan Permian Akhir. Ia juga yakin bahwa peristiwa itu bisa dikatakan kematian massal yang global. Meskipun begitu, tak semua setuju bahwa peristiwa Capitanian bisa dikatakan kiamat global. Salah satunya Matthew Clapham dari University of California di Santa Cruz.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved