Kamis, 16 April 2026

Pemuda yang Dipecat UIN Karena Menghina Nabi Ini Ditangkap Gegara Memeras

Tuah Aulia Fuadi kembali menjadi buah bibir di Sumatera Utara setelah ditangkap polisi.

Editor: fitriadi
Facebook
Tuah Aulia Fuadi 

BANGKAPOS.COM, MEDAN -- Pernah membuat heboh karena mengusulkan agar Al-Quran direvisi, pemuda ganteng ini sekarang mendekam di sel penjara.

Tuah Aulia Fuadi kembali menjadi buah bibir di Sumatera Utara setelah ditangkap polisi saat berada di sebuah kafe sedang menghitung uang yang diduga hasil pemerasannya dari seorang PNS di Pemkab Batubara.

Tahun 2015 silam, ia membuat geger karena dianggap menghina Nabi Muhammad.

//

Baca: Guru Olahraga Cabuli 42 Muridnya, Astaga Dalihnya Buat Ritual Biar Kuat

Tuah Aulia Fuadi yang waktu itu mahasiswa Jurusan Ahwal Al Syakhshiyah Fakultas Syari'ah UIN Sumut menulis pendapat yang membuat marah banyak orang di akun Facebook miliknya.

Di tulisan lepasnya itu, antara lain Tuah menyebut sebaiknya Alquran direvisi karena sudah

tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Begini tulisnya:

Baca: Setya Novanto juga Laporkan 24 Penyidik KPK ke Bareskrim Polri

"Penafsir tunggal itu hanya rasul dan itu pun satu. sekarang ia sudah mati jd penafsir tunggal it sdh ga ada lg. Yg sebaiknya Alquaraan itu direvisi saja. Minimal kembalikan saja urusan itu ke Negara, Biar negara saja yg merelevansikannya sesuai dengan kebutuhan zaman dan peradaban umat yg lebih progresif, modernis, teknologis dan teknogratis."

Selain itu, ia juga berpendapat bahwa umat Islam diwajibkan untuk tidak mengikuti Nabi Muhammad langsung secara mentah-mentah, sebab tak ada hadis yang mengharuskan itu.

"Dalam BERNEGARA , kita tidak diwajibkan untuk mengiktui NABI MUHAMMAD langsung secara mentah2. Sebab tak ada hadis yang bunyinya, 'Dabbiru siyasatakum kama ra-aitumuni udabbiru siyasati,' aturlah politik kalian sebagaimana kalian lihat aku mengatur politikku.

Baca: 9 Kasus Pasangan Mati Gancet, 4 Diantaranya Terjadi di Indonesia

Yang ada adalah hadis, 'Shallu kama ra-aitumuni ushalli,' salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat."

"Kenapa statemen ini hanya disabdakan Nabi dalam hal salat, dan tidak dalam lapangan politik? Jawabannya jelas: karena salat adalah masalah ubudiyyah yang statis, tidak berkembang, dan aturannya final dan terinci."

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved