Rumah Sakit Siloam Bangka Seminar Neurosugery in Indonesia
Rumah Sakit Siloam Bangka selalu berupaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan hipertensi ada dua, yaitu dikarenakan bawaan diri sendiri dan faktor luar seperti makanan dan gaya hidup.
Ia berencana melengkapi perlengkapan beda syaraf secara bertahap.
Dua sampai tiga tahun kedepan perlengkapan MRI dan labterpenuhi. Sehingga lima tahun lagi bisa terlengkapi semua.
Ia menyebutkan operasi bedah syaraf bulan lalu sudah dilakukan dua kali karena kecelakaan dan perlu dioperasi buat buat mengeluarkan darah di kepala. Tindakan tersebut harus dilakukan cepat karena bisa menyebabkan cacat.
Ia berharap seminar tersebut tenaga medis di Bangka dapat lebih memperdalam pengetahuan medis mengenai bedah syaraf sehingga tidak hal sulit ditangani.
Prof Eka J Wahjoepramono, M.D, Ph.D mengatakan bedah syaraf diibaratkan ilmu reparasi otak, seperti operasi tumor dan stroke. Seperti di Amerika dari 1 juta penduduk terdapat 1.000 orang mengidap stroke.
Sementara, di Bangka angka penderita jauh lebih rendah dibandingkan daerah lain, dianalogikan layaknya angka di bawah gunung es.
Eka J Wahjoepramono menilai rendahnya frekuensi tersebut menimbulkan pertanyaan terkait diagnosa maupun budaya yang membiarkan stroke begitu saja karena nasib.
Ia merasa pola pikir tersebut harus diubah sebab telah tersedia rumah sakit atau klinik yang memiliki metode diagnosi tinggi. Seharusnya dapat lebih terkontrol dan dikurangi karena cacat atau meninggal di usia muda sangat memprihatinkan.
Ia menjelaskan 20 tahun lalu, masyarakat Indonesia belum mengenal istilah penyakit Aneurisma atau Stroke karena pembuluh darah di otak pecah. Butuh promosi dan usaha yang panjang supaya masyarakat bisa mempercayainya.
Ia yakin banyak warga Bangka yang menderita penyakit tersebut tidak terekspose.
“Siloam memiliki metode diagnosa yang sangat tinggi dan akurat tentu mampu menangani bedah otak. Prinsipkan seluruh kelainan otak harus dibereskan di negeri sendiri, khusus Aneurisma lebih 1.000 pasien dioperasi di Indonesia. Dulu pasien langsung keluar negeri dan hal itulah yang tidak boleh dibiarkan,” kata Eka J Wahjoepramono.
Menurutnya, melengkapi seluruh peralatan dan perlengkapan bedah syaraf perlu kerjasama pemerintah dan swasta. Baginya, kesehatan tidak murah tapi bagaimana caranya bisa terjangkau masyarakat.
Kehadiran Siloam yang terkenal di dunia tentang beda syaraf serta adanya dokter spesialis, yaitu Wiradharma Arief diharapkan bisa mengurangi risiko cacat atau meninggal di usia muda.
“Seminar ini bukan ajang pamer tapi menstrimulasi dokter agar termotivasi berkompetitif dengan tenaga medis di luar negeri. Perkembangan bedah syaraf di Bangka seharusnya lebih cepat karena sistemnya sudah ada,” ujar Eka J Wahjoepramono.
UGD 24 jam mempunyai fokus otak, jantung, dan kecelakaan dengan hadirnya dr Wiradharma Arief, SpBS siap menghadapi kasus gawat darurat otak dan kecelakaan. Bisa menghubungi call center 1500911 atau direct call 0717-9190911. (adv/p1/may)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/siloam_20171120_091849.jpg)