Tingkatkan Harga Gaharu Budidaya di Level Petani
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menjadi pelopor pertemuan petani gaharu se-Indonesia di Hotel Santika Bangka, Senin (27/11).
“Sejak jadi Bupati Bangka Tengah saya tahu betul potensi petani gaharu. Mereka panen, ketika mau jual susah sekali padahal tidak susah tapi cara menjualnya dibuat susah. Kalau selalu mengedepankan gaharu alam rusaklah hutan, ini salah satu cara pemerintah melindungi alam. Namun gaharu budidaya juga harus jelas berapa umur pohon yang ditebang, ada SOP sertifikat dan cara pengelolaannya,” terang Erzaldi.
Berdasarkan data yang dibeberkan Staf Ahli Bidang Pangan Kementerian Lingkungan Hidup RI, Sabrina, ekspor gaharu mencapai 700 ton per tahun.
Pangsa pasar gaharu memiliki segmen pasti seperti di Eropa dan Amerika sebagai pembuat bahan dasar parfum dan negara-negara Asia Timur seperti Cina dan Korea serta Asia Selatan seperti Arab Saudi, India dan Qatar.
Dikatakan Sabrina, Kementerian Lingkungan Hidup telah melakukan pengembangan budidaya pohon penghasil gaharu sebanyak 10 juta di lokasi yang dianggap berpotensi tinggi.
Pohon penghasil gaharu ditanam oleh masyarakat secara mandiri dan pemerintah daerah termasuk di Bangka Belitung.
“Kita menjual bahan mentah yang siap digunakan untuk konsumen luar negeri. Pola pemasaran seperti ini harus dihentikan agar produk olahan yang dilakukan di dalam negeri dapat menambah nilai ekonomi. Upaya pengembangan sporadis dan tertata akan memberikan stimulasi posisi tawar petani sehingga mampu berkompetisi dengan gaharu alam,” ujar Sabrina. (adv/o1/may)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/gaharu_20171128_085229.jpg)