Jumat, 15 Mei 2026

Terusan Kra Thailand Bakal Mengguncang Dunia Maritim Indonesia dan Singapura

Joint venture antara Thailand dengan China yang bertujuan untuk memperpendek lintasan kapal dari Laut Andaman ke Laut Cina Selatan

Tayang:
Penulis: Teddy Malaka | Editor: Teddy Malaka
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM -- Dunia maritim Indonesia dan Singapura akan terguncang? Sebuah mega proyek yang disebut Terusan Kra Thailand akan mengubah banyak hal.

Dikutip dari huffingtonpost, sebuah ide diprakarsai oleh China, strategi "One Belt, One Road" secara bertahap akan membentuk kembali benua Eurasia, namun dalam visi besar "Jalan Sutra Baru" ini berupa pembangunan Kanal Kra di selatan Thailand.

Tidak ada pengumuman resmi mengenai realisasi proyek infrastruktur raksasa ini.

Namun beberapa analis dan beberapa kekuatan bisnis secara tepat menyatakan dukungan untuk jalur air yang akan menghubungkan Laut Andaman dan Teluk Thailand di garis lintang Kra Isthmus yang berada bagian dari Semenanjung Melayu di Thailand selatan.

Investasi untuk proyek ini setidaknya 30 miliar USD - sekitar 8 persen dari PDB Thailand.

Dikutip dari laman mediatataruang, Terusan Kra sudah dikonsep semenjak tahun 1677 oleh seorang engineer berkebangsaan Perancis, De Lamar, atas perintah raja Thailand.

Sekarang, proyek ini merupakan joint venture antara Thailand dengan China yang bertujuan untuk memperpendek lintasan kapal dari Laut Andaman ke Laut Cina Selatan dan sebaliknya tanpa harus melintasi semenanjung Thailand.

Proyek ini juga sejalan dengan cita-cita China untuk memanggil ruh ekonomi yang hingga kini masih menjadi sejarah—jalur sutra laut.

Adalah hal yang logis bagi pengusaha untuk menyimpan 300.000 USD sebagai ongkos perjalanan kapal kargo seberat 100.000 ton dari pada melewati Selat Malaka.

Bagaimana tidak, selain hemat biaya, jarak yang ditempuh hanya 1.200 mil laut. Tetapi makna implisit dari hal tersebut adalah usaha Thailand untuk menjadi center of grafity atau pusat perdagangan di kawasan Pasifik dan Samudra Indonesia. Bayangkan jika sebanyak 79.344 kapal kargo/tahun atau 217 kapal/hari (2015).

Proyek ini diluncurkan pada 2015 dan diestimasi selesai pada 2025 dengan panjang 102 km, ber-budget 28 miliar UD  (Ship & Bunker, 20 Mei 2015) dan akan menyerap 30.000 tenaga kerja. Kedalaman kanal pun dikalkulasikan sedalam 33 meter, lebar dasar kanal selebar 500 meter dan mencakup area seluas 200 Km2.

Kapal kargo yang bisa melintasi terusan ini maksimal berukuran 500.000 deadwieght tonnage (DWT) berat total kapal termasuk muatan dan ABK dan masih mampu melaju dengan kecepatan 7 knot (13 Km/jam).

Kapal ini merupakan kelas ultralarge crude carriers (ULCCs) yang memiliki panjang lebih lebar dari empat lapangan sepak bola 415 meter dan mampu mengangkut lebih dari 2.000.000 barel minyak mentah dalam sekali pelayaran.

Kanal Asia Tenggara jelas akan menciptakan lapangan kerja di Kerajaan dan di luar, namun juga akan memfasilitasi perdagangan global dan berdiri sebagai simbol kerjasama internasional.

Proyek ini diprediksi mempengaruhi dinamika geopolitik di Asia Tenggara, saluran buatan yang menghubungkan Samudra Hindia dan Timur Jauh tidak akan merugikan kepentingan Singapura yang lokasinya di Selat Malaka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved