Pengusaha Kafe dan Resto Incar Titik Nol Kota Pangkalpinang
Pengusaha kuliner pun mulai melirik kawasan di sekitar Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang.
"Masyarakat kita konsumtif untuk makanan, dan memang pasarnya lebih seneng outdoor. Untuk kuliner pasarnya besar enggak hanya orang Babel tapi orang luar yang mulai datang ke sini juga banyak," katanya.
Dan baru-baru ini pemilik dari Box Music, kembali mengembangkan sayap bisnis kulinernya yaitu angkringan Janda yang mengusulkan tradisional food.
"Masih satu grup dengan angkringan janda, tapi ini lebih ke tradisional food. Orang kan biasanya makan angkringan identik dengan pinggir jalan, kita mencoba meramu ini dikemas lebih wah. Sebenarnya enggak ada kompetitor semakin banyak yang buka usaha kuliner semakin bagus karena kan ini balik ke rezeki masing-masing," kata Heri.
Tamu hotel
Pemilik serba Sambel, Jodi Budhi mengatakan pengunjung restoran tidak hanya masyarakat.
Tamu hotel yang ada di dekat titik nol turut menikmati sajian di kafe dan restoran yang mulai ramai di kawasan yang sama.
"Letak geografisnya di sini strategis, mudah orang menjangkaunya, ini dekat hotel dan penginapan customer yang menginap di hotel sering makan di sini, dan kami juga menyajikan khas semua menunya khas Jawa mulai dari sambelnya sampai gudeg, angkringan, dan kopi Joss," katanya.
Sepanjang tiga bulan bisnis yang digelutinya ini, ia mengatakan semuanya masih berjalan dengan lancar.
"Kita segment-nya memang menengah ke bawah, harganya terjangkau kualitas makanannya tinggi, itu tadi yang jelas kita kental dengan rasa jawanya," ujarnya.
Ia tak menampik banyak kompetitor yang menjajakan makanan khas Jawa, namun menurutnya Pihkanya tetap memiliki keunggulan dan cita rasa yang beda.
"Kekuatan di Menu enggak bisa didapatkan bahan dari Bangka kami datangkan dak Pulau Jawa, Bandeng Presto, Ikan Wader bahan baku sambel enggak ada disini," ujarnya.
Menurutnya, dengan semakin banyaknya kompetitor akan membuat pihaknya semakin tertantang untuk memberikan yang terbaik pada konsumen.
"Jadi semakin banyak kompetitor semakin tertantang. Masing-masing warung dan cafe punya khas dan ciri-cirinya masing-masing," katanya.
Sudah Ramai Sejak 1913
Sejarawan Kota Pangkalpinang, Akmad Elvian mengatakan kawasan Tamansari Sari ini sudah mulai ramai sejak pemerintahan Hindia Belanda memindahkan ibukota keresidenan Bangka dari Mentok ke Pangkalpinang, pada 3 September 1913.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/kafe_20180108_094423.jpg)