Rabu, 8 April 2026

Kisah Sukun, Si 'Pohon Kehidupan' yang Memicu Pemberontakan

Apalagi, pohon sukun bisa tumbuh dengan cepat, tak butuh perawatan khusus, dan menghasilkan buah dengan

Editor: Iwan Satriawan
stylecraze
buah sukun 

BANGKAPOS.COM--Di pulau-pulau Polinesia, sukun adalah bagian penting untuk makanan dan kebudayaan mereka — sangat penting sampai ceritanya diabadikan dalam sejarah.

Warga Polinesia Prancis, pulau kecil di tengah Samudera Pasifik, punya legenda tentang wabah kelaparan yang terjadi di Pulau Ra'iatea.

Alkisah, sebuah keluarga yang terdiri atas enam orang sudah putus asa mencari makanan sampai mereka tinggal di dalam gua dan hanya makan pakis yang tumbuh di lembah sekitar.

Sang kepala keluarga tak sanggup lagi menyaksikan orang-orang tercintanya menderita, maka dia mengatakan kepada istrinya bahwa dia akan mengubur diri di belakang gua.

Di sana, dia akan tumbuh menjadi pohon yang bisa memberi mereka makan.

Ketika istrinya terbangun pada pagi hari dan tak dapat menemukan suaminya, dia pun mengerti apa yang telah terjadi.

Di dekat kuburan suaminya muncul pohon uru yang tumbuh amat cepat, dengan buah sukun bergelantungan di cabang-cabangnya.

Saat ini, tempat itu disebut Mahina, tapi orang-orang tua masih menyebutnya Tua-uru, yang artinya "lembah buah sukun".

Dalam kunjungan saya ke Polinesia Prancis, saya tak butuh dongeng untuk menyimpulkan bahwa sukun, atau uru , demikian orang lokal Polinesia menyebutnya, adalah bagian penting dari budaya dan santapan warga pulau.

Kemanapun saya pergi, saya melihat pohon menjulang tinggi dengan daun berlekuk, dan buah beratnya bergelantungan, masing-masing sebesar bola softball , atau lebih besar.

Pepohonan sukun menghiasi pinggiran jalan, dan halaman rumah-rumah yang sederhana. (Hal biasa, kata warga Polinesia bernama Tea pada saya, "sebab itu berarti Anda dapat memberi makan keluarga bertahun-tahun".)

Di lapak-lapak pasar, sukun bulat dan lonjong (ada lusinan jenis di Polinesia Prancis saja), diletakkan berjejer dengan kelapa, sirsak, markisa, dengan kulit luarnya yang dipenuhi aneka bentuk heksagonal mono. Beberapa telah dibelah, menunjukkan dagingnya yang putih berserat.

Mereka mirip dengan nangka muda, meskipun lebih kecil, dan ternyata mereka berasal dari famili yang sama, bersama dengan buah ara juga.

Di lebih dari 100 pulau yang membentuk Polinesia Prancis, sukun adalah makanan pokok.

Di beberapa tempat, sukun disebut juga buah-roti, karena ketika sudah cukup matang untuk dimakan, buah yang penuh pati ini mirip roti yang baru saja dipanggang.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved