Sabtu, 25 April 2026

Kisah Sukun, Si 'Pohon Kehidupan' yang Memicu Pemberontakan

Apalagi, pohon sukun bisa tumbuh dengan cepat, tak butuh perawatan khusus, dan menghasilkan buah dengan

Editor: Iwan Satriawan
stylecraze
buah sukun 

Beberapa ahli tanaman bahkan menyataan bahwa sukun adalah buah super untuk masa depan, yang punya potensi jadi solusi masalah kelaparan dunia.

Saya bertanya pada diri saya sendiri, bagaimana buah sepenting ini, dan punya sejarah yang menarik, bisa tak saya ketahui sekian lama?

"Pemberontakan Pemburu Hadiah" itu hingga kini menjadi legenda
Hampir dua dekade setelah ekspedisi awal Kapten Cook, Raja George III menunjuk Letnan William Bligh untuk memimpin ekspedisi sukun ke Tahiti.

Pada 28 November 1787, Bligh mengangkat sauh dengan krunya di kapal HMS Bounty. Perjalanan mereka sulit sejak awal.

Angin kencang dan badai secara signifikan memperlambat perjalanan mereka, dan setelah tiba di Tahiti, Bligh dan krunya harus menunggu hingga lima bulan kemudian sebelum kapalnya siap mengangkut.

Ketika mereka bersiap berlayar dari perairan Karibia, kru Bligh sudah terbiasa dengan kehidupan pulau — dan pada perempuan Tahiti.

Banyak dari mereka yang tak ingin pergi. Jadi, pada tanggal 29 April 1789, hanya satu bulan dari perjalanan mereka melintasi Pasifik Selatan menuju Hindia Barat, asisten Letnan Fletcher Christian dan 18 anggota kru lain yang tak puas, memaksa Bligh dan 18 pendukungnya, masuk ke kapal sepanjang 7 meter, membuang mereka ke laut lepas, melempar semua tanaman sukun ke laut, dan berlayar.

"Pemberontakan Para Pemburu Hadiah" itu hingga kini menjadi legenda, dan banyak sejarawan percaya bahwa itu tejadi karena mereka yang mendukung Christian berpikir bahwa dia bisa membantu mereka kembali ke Tahiti — sesuatu yang pada akhirnya memang terjadi, meskipun tak seperti rencana semula.

Bligh dan krunya secara mengejutkan berhasil selamat, dengan hanya menggunakan insting dan ingatan mereka sepanjang 3.618 mil laut, atau 6,701 kilometer, selama 48 hari, hingga tiba di Timor.

Bligh segera kembali ke Inggris, di mana dia dibebaskan dari segala tuduhan, dan dua tahun kemudian kembali berlayar ke Tahiti, kali ini berhasil menyelesaikan misinya.

Faktanya, beberapa pohon yang dibawa oleh Bligh dikabarkan masih menghasilkan buah di Jamaika.

Pada hari terakhir, saya pergi ke Pasar Papeete, pasar yang masif dan sibuk, hanya beberapa blok dari teluk Tahiti.

Ketika pejalan lain sibuk dengan toko yang tak tehitung banyaknya yang menjual pareos, sejenis sarung, botol-botol monoi (campuran minyak kelapa dan bunga), minyak valilla, dan hiasan rambut bunga gardenia yang harum, saya naik ke atas ke Cafe Maeva untuk mencoba satu jenis olahan sukun yang sengaja saya hindari sejauh ini: frites de uru , atau keripik tebal yang digoreng kering.

Tiap gigitan di lapisan luar yang renyah untuk merasakan lapisan dalamnya yang hangat dan lembut, bagai menegaskan bahwa buah ini memang layak punya sejarah yang legendaris.(BBC Indonesia/Laura Kiniry)

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved