Kamis, 9 April 2026

Andre Graff Berkali-kali Nyaris Mati saat Gali Sumur di Tanah Sumba yang Gersang

Tanah yang gersang di Nusa Tenggara Timur itu membukakan mata batin Andre Graff untuk berbuat sesuatu.

Editor: fitriadi
Ade Sulaeman
Andre Graff, bule penggali sumur di tanah Sumba. 

BANGKAPOS.COM -  Andre Graff (kini 56 tahun) datang ke Pulau Sumba sebagai turis, sekitar delapan tahun lalu.

Tapi tanah yang gersang dan kesederhanaan kehidupan masyarakat di Nusa Tenggara Timur itu membukakan mata batinnya untuk berbuat sesuatu.

Ia mulai mencari cara untuk mencari sumber air dari tanah dan menggalinya.

Bule Penggali <a href='https://bangka.tribunnews.com/tag/sumur' title='Sumur'>Sumur</a> di Tanah <a href='https://bangka.tribunnews.com/tag/sumba' title='Sumba'>Sumba</a> (3): Terkesan Senyum Orang Miskin

Andre Graff, bule penggali sumur di tanah Sumba. (Ade Sulaeman)

Tak langsung jadi, tapi belakangan berhasil.

Masyarakat pun tak perlu lagi berjalan berkilo-kilometer ke rawa yang airnya tinggal sedikit, keruh pula, untuk mengambil air untuk dibawa pulang.

Pertama kali datang ke Sumba sekadar mampir karena ia ikut kapal pesiar dari Bali.

Kemudian, pada 2004 ia menghabiskan waktu lebih lama. Ia berjalan menyusuri pulau yang sebagian tanahnya tandus itu, menemui orang, mengambil foto.

Baca: Klik di Sini Detail Perbedaan Kenaikan Harga BBM di Tiap Provinsi

Ketika pulang ke Prancis dan kembali ke rutinitasnya sebagai penerbang balon udara panas (hot air balloon) dan punya usaha wisata, Andre pun mencetak foto-foto hasil perjalanannya ke Sumba.

Ribuan foto dia punya, sebagian besar berisi wajah orang. Ia memang berjanji sepulang ke negerinya akan mencetak foto-foto itu dan mengirimkan kepada para "model" fotonya.

Tapi ia sadar, foto-foto itu tak akan sampai ke alamat kalau dikirim melalui pos.

Andre Graff, bule penggali sumur di tanah Sumba.
Andre Graff, bule penggali sumur di tanah Sumba. (Ade Sulaeman)
Sebab banyak daerah yang dia datangi begitu terpencil, tidak tersentuh pembangunan, tak ada jalan, apalagi memiliki alamat.

Tapi janji tetap janji. Akhirnya pada 2005 Andre kembali ke Sumba dan berkeliling pulau lagi buat menyerahkan foto-foto yang ia rasa sebagai utangnya.

Ternyata ia begitu terkesan pada alam, masyarakat, dan kebudayaan Sumba yang tetap mereka pegang.

Baca: Rekor 1.000 Kali Operan Timnas Spanyol Berakhir Tragis di Tangan Tuan Rumah Rusia

Di sisi lain perasaan ibanya muncul karena alam yang tidak mendukung menyebabkan rakyat menderita. Ia terpanggil untuk berbuat sesuatu.

Andre Graff terkesan akan keramahan masyarakat Sumba. Mereka tak pernah kehilangan senyum walau hidup menderita di tanah gersang.

Sumber: Intisari
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved