Selasa, 19 Mei 2026

HUT RI Ke 73

Ketika Jepang Pergi, Belanda Ingin Kuasai Indonesia Tapi Gagal, Ini Alasannya

Detik-detik Proklamasi, Ketika Jepang Pergi, Belanda Ingin Kuasai Indonesia Tapi Gagal, Ini Alasannya

Tayang:
Editor: Teddy Malaka
Intisari

Gagal total

Selain itu NAFIES juga berusaha memperoleh informasi dengan mengirim orang ke daerah yang diduduki Jepang. Sudah tentu usaha itu sangat berbahaya dan riskan. Itu semua disebut Intelligence Parties (tugas-tugas intelijen).

Biasanya para petugas intelijen itu didaratkan dengan kapal selam di suatu tempat, dan harus kembali pada tanggal yang sudah disepakati.

Semua kegiatan intelijen itu bisa dibaca dalam buku mantan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Belanda, Bezemer, Verdreven doch niet Verslagen (Terusir tetapi tidak Terkalahkan).

Dapat kita baca juga bahwa hampir semua Intelligence Parties itu menemui kegagalan. Sebagian besar orang-orang yang dikirim itu dapat ditangkap Jepang, atau diserahkan oleh penduduk kepada pemermtah Jepang.

Selama pemerintahannya, Jepang memang sudah membentuk suatu organisasi pertahanan sipil sampai ke desa-desa, bahkan sampai ke tingkat RT. Satuan terkecil adalah Tonarikumi (RT), yang dipimpin seorang Kumico.

Tugasnya antara lain memberantas mata-mata musuh. Di suatu daerah kecil tentu mudah sekali untuk mengetahui orang yang bukan berasal dari daerah itu.

Apalagi kalau gerak-geriknya mencurigakan.

Maka Van Mook hanya mendasari  pendapatnya pada informasi unit-unit bawahannya.

Hal ini dikemukakannya dalam surat resmi kepada Panglima Sekutu di Asia Tenggara, Laksamana Mountbatten, tertanggal 3 September 1945: ".. Jelas bahwa pemerintahan Soekarno itu dibentuk oleh Jepang dan secara lengkap berada di bawah pengawasan Jepang, dan jika dibiarkan merupakan inti propaganda Pan Asia – Jepang ..”

Surat itu bisa dibaca dalam Officiele Bescheiden Betreffende De Nerdelands-Indonesische Bertekkingen 1945 – 1950 jilid I, yaitu surat-surat resmi Indonesia — Belanda antara tahun 1945 - 1950.

Meleset sama sekali

Tidak heran kalau Jenderal Simatupang, sebagaimana dapat kita baca dalam bukunya Laporan dari Banaran, menjelaskan kepada pihak Belanda, betapa keliru perkiraan mereka.

Situasi Sumatra Timur dan daerah-daerah Jawa Timur yang diduduki Belanda kelihatannya stabil karena pemerintah Republik telah menarik pasukan dan para pemuda pejuang, sambil menunggu saat untuk kembali ke pangkuan Republik lewat plebisit nasional, sebagaimana diputuskan dalam Persetujuan Renville, Januari 1948.

Plebisit itu sendiri tidak pernah terlaksana karena Belanda melancarkan Aksi Militer II, Desember 1948.

Simatupang mengingatkan Belanda bahwa jika mereka menyerang, suasana aman dan damai itu akan berubah total.

TNI dan pemuda pejuang akan kembali ke daerah-daerah yang mereka tinggalkan.

RI tidak akan segan-segan menggunakan segala sarana untuk menghadapi penyerang. Jangan Belanda mengira bahwa luapan anti-Belanda, sekali dilepas akan mudah ditumpas seperti memutar keran air. (*)

Sumber: Intisari
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved