Sabtu, 11 April 2026

Ini 'Kerusakan Abadi' yang Biasanya Dialami Mantan Bintang Film Panas

Khusus mengenai kehidupan mereka setelah "pensiun", sebenarnya ada masalah serius yang kerap dihadapi

Editor: Iwan Satriawan
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi. 

BANGKAPOS.COM--Mantan bintang film panas asal Jepang Maria Ozawa alias Miyabi sempat diperiksa selama tiga jam di Kantor Imigrasi Bali, Selasa (6/11/2018).

Hal tersebut dibenarkan oleh Kasi TIK Kanim Kelas I Denpasar Bagus Aditya Nugraha Suharyono, Rabu (7/11/2018).

"Benar, pada hari Selasa tanggal 6 November 2018 jam 23.45 Wita, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar cq. Intelijen dan Penindakan Keimigrasian telah meminta keterangan terhadap seorang WN Jepang," kata Bagus, seperti dilansir dari kompas.com.

Maria Ozawa sebelumnya diduga berkunjung ke Bali karena memiliki urusan bisnis.

Maria Ozawa alias Miyabi
Maria Ozawa alias Miyabi (Instagram)

Namun dirinya mengaku hanya merayakan ulang tahun teman.

"Saya datang ke sini untuk berpesta dengan teman-teman. Itu kegiatan yang lumrah," kata perempuan berusia 32 tahun itu, masih dilansir dari kompas.com.

Hal yang sama akhirnya dipaparkan oleh pihak imigrasi, melalui Bagus.
Tidak ada pelanggaran keimigrasian oleh yang bersangkutan, sehingga diperkenankan meninggalkan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar," pungkas Bagus. 

Berita tentang penahanan Maria Ozawa ini kemudian menjadi perbincangan di dunia maya, khususnya Twitter, di mana sempat menjadi salah satu trending topic pada Rabu siang (11/7/2018).

Ya, kehidupan bintang porno, maupun mereka yang telah "pensiun" memang tak lepas dari sorotan masyarakat.

Khusus mengenai kehidupan mereka setelah "pensiun", sebenarnya ada masalah serius yang kerap dihadapi oleh para mantan bintang porno.

Hal itu diakui oleh Jennie Ketcham, mantan bintang porno sekaligus penulis buku "I Am Jennie" dalam artikel berjudul "Pornography Does Lasting Harm to Performers" yang tayang di nytimes.com.

Dalam artikel tersebut, Ketcham mengakui bahwa meskipun pekerjaan di bidang pornografi (termasuk pelacuran ataupun pemeran film porno) memang menawarkan kepuasan segera atas kebutuhan seseorang akan perhatian dan uang, namun tidak dengan soal harga diri mereka.

Kerusakan emosional para pekerja di bidang pornografi jauh melebihi pencapaian finansial atau kepuasan fisik yang dapat dicapai.

Penyebabnya adalah masyarakat kita yang menganggap seks suci; kita tidak bisa memisahkan seks dan keintiman. Tapi justru itulah hal yang paling ingin dicapai oleh pekerja seks.

Menerima uang untuk seks mengurangi kenikmatan intrinsik seorang pelaku pornografi, dan efek ini terjadi sepanjang hidupnya.

Sumber: Intisari
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved