Jumat, 10 April 2026

Jenderal Soedirman, dari Guru Menjadi Panglima Besar

Di kalangan para perwira tentara, Jenderal Soedirman mempunyai kelebihan: teguh hati, lemah lembut tutur katanya, dan bersikap kebapakan.

Editor: fitriadi
Puspen TNI
Panglima Besar Jenderal Soedirman 

BANGKAPOS.COM - Berbicara mengenai Tentara Nasional Indonesia yang berulang tahun hari ini, sulit kiranya memisahkan dari sosok Jenderal Soedirman. Dialah Panglima TNI pertama.

Soedirman terpilih karena terkenal sebagai komandan tentara yang bijak dan bersikap kebapakan. Sikap ini sudah ditunjukkan jauh sebelum ia menjadi tentara.

Setamat pendidikan guru di HK Mohammadiyah Solo tahun 1934, ia menjadi Kepala SD Mohammadiyah di Cilacap sebelum Jepang menyerbu Indonesia.

Sebagai kepala sekolah, ia bersikap terbuka, mau mendengarkan pendapat orang lain, dan selalu siap memberi jalan pemecahan terhadap setiap masalah yang timbul di kalangan para guru.

Baca: 6 Pasukan Khusus TNI, Bergerak Cepat Senyap dan Punya Kemampuan Tempur di Atas Rata-rata

Majalah Forum Keadilan edisi 9 Januari 2O00 menyebutkan ia menjadi tenaga pengajar di sekolah menengah Mohammadiyah Cilacap, di mana ia juga aktif di organisasi Kepanduan Islam Hisbul Wathon (HW).

Sudah sejak belia keteguhan hati Soedirman terpancar.

Sualu malam di tengah dinginnya udara malam pegunungan Dieng, sekelompok pemuda Kepanduan Hisbul Wathon sedang berkemah.

Karena udara terlampau menusuk tulang, banyak rekan Soedirman yang meninggalkan perkemahan.

Tetapi sebagai pemimpin kepanduan, Soedirman bertahan sampai pagi.

Baca: TNI AU Pernah Dibesarkan oleh Negara yang Pernah Menjajah Indonesia

Jenderal Soedirman, Sang Guru yang Jadi Panglima Besar: Jenderal yang Tak Sudi Dilecehkan
Jenderal Soedirman, Sang Guru yang Jadi Panglima Besar: Jenderal yang Tak Sudi Dilecehkan (Intisari-online.com)

Dari Guru ke Jenderal

Karier militer Soedirman diawali ketika ia mengikuti latihan perwira tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.

Selesai mengikuti latihan, ia diangkat menjadi Daidancho (Komandan Daidan, setara batalyon) di Banyumas.

Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, pasukan Inggris mendarat di Indonesia atas nama Sekutu.

Mereka bertugas mengurus tawanan perang yang disekap Jepang, dan melucuti senjata tentara Jepang yang sudah kalah perang.

//

Di berbagai daerah, mereka yang sedang menunggu diangkut pulang ke Jepang itu diminta menyerahkan senjatanya kepada tentara Indonesia.

Sumber: Intisari
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved