Minggu, 14 Juni 2026

Mengintip Pembuatan Janggelan, Menu Khas Buka Puasa Asal Magetan

Beberapa wilayah memiliki makanan atau minuman khas untuk berbuka puasa. Salah satunya adalah cincau hitam atau janggelan

Tayang:
Editor: Iwan Satriawan
Sukoco/Kompas.com
Pabrik pembuatan janggelan. 

BANGKAPOS.COM - Beberapa wilayah memiliki makanan atau minuman khas untuk berbuka puasa.

Salah satunya adalah cincau hitam atau janggelan yang selalu dicari saat memasuki bulan Ramadan. Dengan tambahan es dan gula, janggelan menjadi minuman istimewa Saat berbuka puasa.

Salah satu pembuat cincau hitam yang terkenal adalah Sumarni (63), warga Dusun Jetak Desa Tanjung Sari Kabupaten Magetan Jawa Timur.

Janggelan buatan Sumarni bukan hanya dikonsumsi masyarakat Magetan, namun juga dikirim ke Ponorogo, Madiun, Ngawi, Solo, Yogyakarta hingga Klaten.

Kompas.com mencoba melihat pabrik pembuatan janggelan milik Sumarni. Lagu langgam campur sari sayup diputar dari pabrik janggelan yang terbuat dari anyaman bambu, Rabu (22/5/2019) siang.

Sejumlah pekerja terlihat sibuk di tiga tungku panas yang digunakan untuk memasak janggelan yang masih berbentuk cair.

Janggelan cair yang berwarna hitam dan masih panas itu memenuhi bak putih setinggi 50 cm saat keran yang terhubung dengan panci besar setinggi dua meter tersebut dibuka.

Supardi, salah satu pekerja dengan cekatan mengganti ember yang penuh lalu dipindahkan ke tengah ruangan untuk didinginkan. Ia mengaku sudah tiga tahun terakhir bekerja sebagai pembuat janggelan di pabrik milik Sumarni.

Selama memasuki bulan Ramadhan permintaan janggelan ditempatnya meningkat dratis. Saat hari biasa, pabrik janggelan milik Sumarni hanya memperkerjakan empat orang. Namun jumlahnya akan bertambah dua kali lipat saat bulan puasa.

“Subuh itu sudah mulai manasin di tungku pertama. Selesainya kadang tengah malam,” ujarnya Supardi.

Untuk membuat janggelan harus melewati beberapa tahap. Yang pertama, pekerja memotong bahan baku utama yaitu daun janggelan yang telah dikeringkan. Lalu potongan janggelan tersebut dimasak di tungku bejana yang berukuran dua meter dan bisa menampung 100 kilogram daun janggelan yang sudah dipotong.

Untuk memasak janggelan tahap pertama dibutuhkan waktu sekitar lima jam. Lalu air rebusan janggelan disaring dan ditiriskan. Air rebusan janggelan tersebut kemudian di masak lagi di dalam bejana yang ukurannya lebih kecil dengan suhu yang lebih tinggi.

Pabrik janggelan milik Sumarni sampai saat ini masih menggunakan kayu bakar. Ia beralasan memasak dengan menggunakan kayu akan menghasilkan panas yang lebih stabil.

“Di tungku dua nggak lama. Paling setengah jam sudah masak,” imbuh Supardi.

Dari tungku kedua, cairan janggelan yang sudah masak akan dipindah ke tungku ke tiga. Di tungku ini, cairan janggelan diaduk dengan campuran tepung terigu dan terus masak dengan suhu mencapai 100 derajat celcius.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved