Selasa, 28 April 2026

Inilah Sosok Gus Miftah Guru Spritual Sekaligus Pembimbing Deddy Corbuzier Menjadi Mualaf

Inilah Sosok Gus Miftah Guru Spritual Sekaligus Pembimbing Deddy Corbuzier Menjadi Mualaf

Editor: M Zulkodri
Tribun Jogja/Hermawan Handaka
Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Kalasan, Kabupaten Sleman,Yogyakarta Kiai Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah. Senin. (17/06/2019). (Tribun Jogja/Hermawan Handak) 

Dulu yang sering mendapat pertentangan kini justru berebut dan antre untuk bisa mendatangkan Gus Miftah.

Dia pun terbuka dan menerima pekerja hiburan untuk ngaji bahkan mondok di pesantren Ora Aji di Sleman Yogyakarta.

Pabrik Korek Api Terbakar, Puluhan Korban Tewas karena Ruangan Terkunci

Nah, untuk mengulik kegiatan dakwahnya, repoter Tribun Jateng (Grup Tribunnews.com), Wartawan Faisal Affan dan Hermawan Handaka secara eksklusif mewawancari Gus Miftah.

Berikut hasil wawancara eksklusif Tribun Jateng dengan Gus Miftah, ulama muda NU, mengenai sejumlah topik termasuk rencana Deddy Corbuzier masuk Islam jadi mualaf.

Wawancara dilakukan setelah Gus Miftah mengisi Jateng Bersholawat Bersama Habib Syech di Simpanglima, Semarang.

Pada keesokan hari, Senin (19/6/2019), pendakwah yang ramah ini berkenan menerima kunjungan Wartawan Faisal Affan dan Hermawan Handaka sebelum melanjutkan kunjungan ke Tegal.

Menkopolhukam Wiranto, Menhub Budi Karya Sumadi, KH Agus Miftah, Ketua MCM Wisnu Dewanto dan tokoh MCM hadiri acara Silaturahim 600 Ustadz dan Khatib Jumat se-DKI Jakarta, Rabu (6/2/2019). TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO
Menkopolhukam Wiranto, Menhub Budi Karya Sumadi, KH Agus Miftah, Ketua MCM Wisnu Dewanto dan tokoh MCM hadiri acara Silaturahim 600 Ustadz dan Khatib Jumat se-DKI Jakarta, Rabu (6/2/2019). TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO (TRIBUNNEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO)

Mengapa Gus Miftah suka berdakwah di dunia malam ketimbang di masjid?

Karena tidak ada yang mau masuk. Padahal mereka sebenarnya butuh ngaji.

Maka saya memberikan kesempatan dan peluang supaya mereka bisa merasakan sama dengan yang kita rasakan.

Terutama kaitannya dengan persoalan rohani.

Kesempatan mereka untuk ngaji terbatas. Maka saya jemput bola ke sana.

Bagaimana Anda bisa masuk ke diskotek maupun lokalisasi?

Tentu saya butuh pendekatan dan lobi. Saya menggunakan bahasa yang mudah dipahami mereka.

Kalau masuk ke kalangan elit ya pakai bahasa elit, masuk kalangan marjinal ya pakai bahasa kaum marjinal.

Setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Saya selalu menggunakan konsep dakwah yang bisa masuk ke akal mereka.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved