Jumlah E-Warung di Babel Belum Ideal, Dinsos Bangka Belitung Beberkan Kendalanya
Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Bangka Belitung (Babel) Rusli mengatakan jika
Jumlah E-Warung di Babel Belum Ideal, Dinsos Bangka Belitung Beberkan Kendalanya
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Bangka Belitung (Babel) Rusli mengaku tak mengetahui pasti jumlah E-Warung di Babel.
Hal ini dikarenakan ia belum merekap hal tersebut namun ia memastikan jika jumlah tersebut belum mencukupi secara ideal.
Menurut Rusli standarnya satu E-Warung itu harus menghandle 250 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), sehingga jika 43.458 KPM dibagi 250 setidaknya Babel memiliki 1.738 E-Warung.
Lebih lanjut Rusli menjelaskan jika E-Warung sendiri berasal dari dua sumber, yang pertama adalah E-Warung yang dibentuk oleh kementrian sosial, dan E-Warung yang menjadi agen bank, atau E-Warung yang didirikan oleh bank.
Dan bank akan merangkul warung-warung yang sudah ada untuk menjadi agen mereka, dikarenakan kunci dari E-Warung menurut Rusli adalah mesin electronic data capture (EDC).
"Jadi nanti bank lah yang menitipkan mesinnya di bank tersebut," ujar Ibnu, Selasa (27/8) kepada Bangkapos.com
Ia mengatakan jika ada beberapa pertimbangan pihak bank untuk merangkul warung biasa menjadi agen mereka, seperti letak geografis yang mana letak warung tersebut tidak terlalu jauh dari KPM, dan warung tersebut berada di area yang memiliki sinyal yang bagus agar mesin EDC bisa bekerja secara maksimal.
Lapor Kesini
Bagi masyarakat yang merasa memiliki hak untuk menjadi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sehingga bisa mendapatkan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), namun tidak terpenuhi haknya, bisa langsung melaporkan hal tersebut kepada kelurahan setempat.
Rusli mengatakan setelah menerima laporan warga, kelurahan akan mencatat dan diteruskan kepada kecamatan untuk selanjutnya ke Dinsos kabupaten/kota untuk dilaporkan ke Kementrian Sosial (Kemensos) pusat.
Rusli menambahkan sejauh ini menurut monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Dinsos Babel, ia melihat jika memang masih terdapat masalah dalam realisasi program BPNT ini. Namun jika dibandingkan dengan manfaatnya, ia menilai jika jauh lebih banyak manfaatnya.
"Memang ada kendala, bohong lah kalau tidak ada kendala. Hanya saja perbandingan asas manfaat dan mudharatnya masih besar manfaatnya," ujar Rusli
Kendala yang ia temui seperti letak geografis E-Warung yang berada cukup jauh dari KPM, dan juga terkadang kendala sinyal yang kurang baik, sehingga pada saat KPM ingin menggunakan kartu ATM tersebut terkendala.
Dalam hal kepuasan, ia menilai jika masyarakat lebih senang dengan program BPNT ini yang dinilai lebih objektif. Letak objektifnya adalah ia mencontohkan jika dulu Beras Sejahtera (Rastra) yang didapatkan oleh KPM per orang 15 kg, dan pada saat itu ada dua orang yang sedang mengambil Rastra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/kepala-bidang-penanganan-fakir-miskin-dinas-sosial-provinsi-babel-rusli-mfhfg.jpg)