Berita Sungailiat

Kisah Stadion OROM, Lapangan Hijau yang Penuh Sejarah

OROM kepanjangan dari Olahraga Obat Masyarakat) yang merupakan lapangan sepakbola legendaris yang berada di Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka.

Kisah Stadion OROM, Lapangan Hijau yang Penuh Sejarah
Bangkapos.com/Ferry Laskari
Stadion OROM Sungailiat Bangka 

BANGKAPOS.COM-- Sejak masih berusia 15 tahun, Alias (50) sudah mengenal OROM kepanjangan dari Olahraga Obat Masyarakat) yang merupakan lapangan sepakbola legendaris yang berada di Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka.

Berbagai even bergengsi, termasuk aksi para pemain sepakbola nasional yang berlaga di stadion ini, pernah dipertontonkan di lapangan hijau tersebut. Tentu saja sejarah panjang mengukir tempat penuh kenangan itu.

Kini Alias merupakan Bendahara Penerimaan Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Dinparpora) Kabupaten Bangka, yang juga bertugas mengurus, memungut dan menyetor pendapatan asli daerah (PAD) atau uang retribusi yang diperoleh pada setiap kegiatan yang diselenggarakan di OROM tersebut.

"Saat masih bermur 15 tahun saya mulai mengenal dan tahu dengan lapangan atau Stadion OROM. Bahkan orangtua saya sudah lebih dulu mengenal lapangan ini karena keberadaannya sudah ada sejak puluhan tahun silam," kata Alias berbagi kisah pada Bangka Pos, Rabu (28/8/2019).

Di masa itu kenang Alias, yang ia tahu OROM paling megah di Pulau Bangka, saat belum dibentuk kabupaten pemekaran. Kontruksi bangunannya begitu kokoh. "Kualitas besi serta papan di OROM, begitu kuat. Setahu saya 25 tahun lalu, kursi penonton di OROM pun sudah ada seperti ini. Bahkan sebelum masa itu, kursi di stadion ini sudah terpasang untuk penonton," kata Alias menyebut kondisi stadion ini.

Alias juga berbagi kisah tentang aksi tim sepakbola nasional yang pernah merumput di lapangan hijau yang dimaksud, saat adu kekuatan dalam pertandingan ekspedisi melawan jagoan daerah di masa itu, PS Bangka. "Lapangan ini jadi kebanggaan masyarakat sampai ke pelosok Pulau Bangka. Apalagi tak jarang orang-orang penting merumput di lapangan ini," ungkap Alias.

Sungguh luar biasa menurut Alias, karena bangunan bersejarah bagi dunia sepakbola di daerah ini masih bertahan, walau bermunculan lapangan baru di kota yang sama. "Konon OROM dibangun oleh Almarhum Sutiono Jakoep Alis pada Tahun 1970-an. Semogga beliau tenang di alam sana," doa Alias seraya memuji jasa si perancang stadion.

Namun sayang, walau peninggalan karya almarhum masih tetap ada, masyarakat harus berhati-hati. Karena kursi penonton yang tersusun rapi sejak puluhan tahun silam, telah dimakan usia. "Hati- hati saja nontonnya, takut punggung sobek dan baret," imbau pria asal Desa Puding Besar itu.

Padahal Inpres Nomor 3 Tahun 2019 tentang percepatan pembangunan persepakbolaan tingkat nasional, sudah sangat jelas. Pada Inpres ini diminta 12 Jajaran Kementerian, termasuk Kapolri, Gubernur, Bupati dan Walikota se-Indonesia, mendukung segala hal berbau olahraga, khususnya sepakbola.

"Yaitu agar jajaran tersebut mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara terkoordinasi, terintegrasi sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing untuk melakukan peningkatan prestasi sepakbola nasional dan internasional," jelas Alias.

Instruksi yang dimaksud termasuk peningkatan sarana prasarana yang di butuhkan. "Tapi dengan kondisi yang dimiliki OROM saat ini, apakah memenuhi syarat dan standarisasi penyelenggaraan even sepakbola tingkat nasional. Sebab sekelas bangunan musholhah pun tidak ada di OROM, apa lagi fasilitas yang lainnya," ungkap  Alias.

Dia berharap pemerintah atau pihak terkait peduli pada kondisi Stadion OROM, yang mulai memudar 'dimakan' waktu.  (Bangkapos.com/Fery Laskari)

Penulis: ferylaskari
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved