Rabu, 27 Mei 2026

Sungai Perimping Ditambang

Dicemari Limbah Tambang Ilegal, Ikan dari Sungai Perimping Bau Oli

Bertahun-tahun nelayan Desa Berbura (Dusun Bernai, Buhir dan Rambang) harus menerima wilayah tangkap ikannya di DAS Perimping dirambah tambang ilegal.

Tayang:
Penulis: Hendra | Editor: Ardhina Trisila Sakti
bangkapos.com/Hendra
Pertemuan nelayan Desa Berbura, Kabupaten Bangka saat bertemu Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya, Senin (11/11/2019) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bertahun-tahun nelayan Desa Berbura (Dusun Bernai, Buhir dan Rambang) harus menerima wilayah tangkap ikannya di DAS Perimping dirambah tambang ilegal.

Setidaknya aktivitas tambang ilegal yang disinyalir dibekingi aparat hukum ini beroperasi sejak 2008 silam.

Kini setidaknya diperkirakan ada sekitar 1.000 lebih ponton tambang beroperasi. Mangrove habitat ikan tangkapan nelayan setempat rusak parah.

Tak hanya kerusakan mangrove saja, ternyata aktivitas penambangan yang seolah biarkan ini merubah rasa ikan tangkapan nelayan setempat.

Hutan Mangrove Ditambang, Masyarakat Desa Ini Ngadu ke DPRD Babel

Kepala Dusun Rambang, Tarmizi mengungkapkan bahwa rasa ikan tangkapan nelayan tak seperti dulu. Segar, nikmat khas ikan Sungai Perimping.

"Rasa ikan saja tidak seperti dulu. Karena sudah kena limbah tambang, ikan saja berbau minyak solar, oli atau ada juga berbau lumpur," kata Tarmizi, saat melaporkan keluhan nelayan ke Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya, Senin (11/11/2019).

Bukannya tak berbuat, tapi nelayan setempat sudah kewalahan menghadapi para penambang ilegal.

Apalagi dibalik penambangan ini kata Tarmizi dibekingi oleh oknum aparat.

Nelayan berkali-kali menyampaikan agar penambang ilegal DAS Perimping hengkang. Berkali-kali pula aparat kepolisian melakukan penertiban.

"Tapi tidak jera-jera. Hari ditertibkan, besok mereka datang lebih banyak lagi. Sedangkan pekerjanya lebih banyak dari luar Babel," keluh Tarmizi.

Dicemari Limbah Tambang Ilegal, Ikan dari Sungai Perimping Bau Oli

Berapa habitat yang menjadi sumber penghasilan nelayan Berbura hilang. Ikan, kepiting, dan udang pun sulit didapatkan.

Kemudian jenis kerang-kerangan yang menjadi khas tangkapan nelayan setempat pun kini langka. Seperti kerang kaco, kepah dan lokan pun sulit didapat pada musimnya.

Mirisnya akibat rusaknya hutan konservasi mangrove DAS Perimping ini, habitat buaya pun bermunculan.

Buaya tak lagi dihutan mangrove, tetapi kini bermunculan di pantai.

"Kita khawatir dengan nasib nelayan kita. Mencari ikan sudah, justru nanti harus berhadapan dengam buaya," ujar Tarmizi.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved