Jumat, 1 Mei 2026

Produksi 200 Unit Hp per Hari, Pabrik Ponsel Ilegal Raup Untung 12 Miliar Selama Dua Tahun

Pabrik ponsel ilegal tersebut setidaknya sudah meraup keuntungan Rp 12 miliar.

Tayang:
Editor: Tomi

BANGKAPOS.COM - Pabrik ponsel ilegal di Komplek Ruko Toho, Penjaringan, Jakarta Utara, digerebek polisi pada hari Selasa (2/12/2019).

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto mengatakan, pengungkapan itu berawal dari kecurigaan polisi akan seringnya aktivitas bongkar muat ponsel di lokasi tersebut.

Unit Krimsus Polres Metro Jakarta Utara pun menyelidiki mengenai aktivitas di ruko tersebut.

Setelah dua minggu, polisi lantas menggeledah tempat tersebut.

"Setelah kami lakukan penggeledahan, ternyata betul ada aktivitas perakitan HP dan setelah kami cek, perizinannya ternyata yang bersangkutan tidak memiliki postel," kata Budhi di lokasi.

Budhi juga mengatakan, modus yang dilakukan tersangka ada dua, pertama mengimpor dari sparepart HP, kemudian dirakit di sini. Kemudiaan dijual, dipasarkan di wilayah Indonesia.

Sementara untuk modus kedua, yakni menjual ponsel impor dari negara tertentu, kemudian mereka jual di Indonesia sekaligus menerima garansi kerusakan.

Padahal, izin dari ruko tersebut hanyalah jual beli aksesoris ponsel.

Raup Untung 12 Miliar

Pabrik ponsel ilegal tersebut setidaknya sudah meraup keuntungan Rp 12 miliar.

"Kurang lebih melakukan perakitan dua tahun, jadi omzet yang sudah diraup sampai selama melakukan perakitan kurang lebih Rp 12 miliar," kata Budhi.

Budhi merinci, 29 pegawai pabrik ponsel ilegal tersebut setidaknya mampu memproduksi 200 unit ponsel setiap harinya.

Dari 70 jenis ponsel yang mereka produksi, setidaknya tersangka berinisial NG mendapat keuntungan antara Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000.

Budhi juga menyampaikan bahwa ponsel ilegal ini kemungkinan telah beredar di seluruh wilayah Indonesia karena tersangka menjual produk rakitannya itu secara online.

"Mereka cukup banyak produksi dari handphone ini. Kalau kita lihat, dengan harga yang cukup murah, kemudian spesifikasi yang cukup tinggi untuk handphone yang murah, jadi banyak peminat sehingga memasarkannya mereka tidak kesulitan," ujar Budhi.

Adapun sparepart ponsel ilegal ini mereka impor dari China.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved