Breaking News:

ULAR 4 Meter Sembunyi di Plafon Rumah, Yuk Pahami Pertolongan Pertama Jika Digigit Ular Berbisa

Ular piton sepanjang 4 meter dengan diameter sekitar 10 cm ditemukan di dalam bak mandi di sebuah rumah milik seorang warga

(PMK Surabaya)
Ular piton sepanjang 4 meter ditemukan di dalam bak mandi di sebuah rumah milik warga Jalan Kemayoran Baru Surabaya 

Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahan penanganan pada korban yang mengalami gigitan kobra sehingga justru berakibat fatal.

Ular sendok

Dikutip dari Wikipedia, ular sendok atau yang juga dikenal dengan nama kobra adalah sejenis ular berbisa dari suku Elapidae.

Disebut ular sendok (Jw., ula irus) karena ular ini dapat menegakkan dan memipihkan lehernya apabila merasa terganggu oleh musuhnya.

Leher yang memipih dan melengkung itu serupa bentuk sendok atau irus (sendok sayur).

Istilah kobra dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Inggris, cobra, yang sebetulnya juga merupakan pinjaman dari bahasa Portugis.

Dalam bahasa terakhir itu, cobra merupakan sebutan umum bagi ular, yang diturunkan dari bahasa Latin colobra (coluber, colubra), yang juga berarti ular.

Ketika para pelaut Portugis pada abad ke-16 tiba di Afrika dan Asia Selatan, mereka menamai ular sendok yang mereka dapati di sana dengan istilah cobra-capelo, ular bertudung.

Dari nama inilah berkembang sebutan-sebutan yang mirip dalam bahasa-bahasa Spanyol, Prancis, Inggris dan bahasa Eropa.

Nama ilmiah mereka, Naja, berasal dari kata bahasa Sansekerta, Nagá yang berarti "ular bertudung".

Ular sendok dalam bahasa Indonesia merujuk pada beberapa jenis ular dari marga Naja.

Sedangkan ular king-cobra (Ophiophagus hannah) biasanya disebut dengan istilah ular anang atau ular tedung.

Bisa ular sendok

Bisa atau racun ular sendok merupakan salah satu yang terkuat dari jenisnya, dan mampu membunuh manusia.

Ular sendok melumpuhkan mangsanya dengan menggigit dan menyuntikkan bisa neurotoksin pada hewan tangkapannya (biasanya binatang mengerat atau burung kecil) melalui taringnya.

Bisa tersebut kemudian melumpuhkan saraf-saraf dan otot-otot si korban (mangsa) dalam waktu yang hanya beberapa menit saja.

Selain itu, ular sendok dapat melumpuhkan korbannya dengan menyemprotkan bisa ke matanya; namun tidak semua kobra dapat melakukan hal ini.

Kobra hanya menyerang manusia bila diserang terlebih dahulu atau merasa terancam.

Selain itu, kadang mereka juga hanya menggigit tanpa menyuntikkan bisa (gigitan `kosong' atau gigitan `kering').

Maka tidak semua gigitan kobra pada manusia berakhir dengan kematian, bahkan cukup banyak persentase gigitan yang tidak menimbulkan gejala keracunan pada manusia.

Meski demikian, orang harus tetap berwaspada apabila tergigit ular ini, tetapi jangan panik.

Yang terbaik, perlakukan luka gigitan dengan hati-hati tanpa membuat luka-luka baru di sekitarnya (misalnya untuk mencoba mengeluarkan racun).

Jika mungkin, balutlah dengan cukup kuat (balut dengan tekanan) bagian anggota tubuh antara luka dengan jantung, untuk memperlambat -namun tidak menghentikan- aliran darah ke jantung.

Usahakan korban tidak banyak bergerak, terutama pada anggota tubuh yang tergigit, agar peredaran darah tidak bertambah cepat.

Kemudian bawalah si korban sesegera mungkin ke rumah sakit untuk memperoleh antibisa (biasanya di Indonesia disebut SABU, serum anti bisa ular) dan perawatan yang semestinya.

Semburan bisa ular sendok, apabila mengenai mata, dapat mengakibatkan iritasi menengah dan menimbulkan rasa pedih yang hebat.

Mencucinya bersih-bersih dengan air yang mengalir sesegera mungkin dapat membilas dan menghanyutkan bisa itu, mengurangi iritasi dan mencegah kerusakan yang lebih lanjut pada mata.

Gejala-gejala keracunan

Penting untuk diingat sekali lagi, bahwa gigitan ular sendok pada manusia tidak semuanya berakhir dengan kematian.

Pada kebanyakan kasus gigitan, ular menggigit untuk memperingatkan atau mengusir manusia.

Dengan demikian, hanya sedikit atau tidak ada racun yang disuntikkan.

Jika pun racun masuk dalam jumlah yang cukup, apabila korban ditangani dengan baik, umumnya belum membawa kematian sampai beberapa jam kemudian.

Jadi, kematian tidak datang seketika atau dalam beberapa menit saja.

Tidak perlu panik.

Bisa kobra, seperti umumnya Elapidae, terutama bersifat neurotoksin,yakni memengaruhi dan melumpuhkan kerja jaringan saraf.

Si korban perlahan-lahan akan merasa mengantuk (pelupuk mata memberat), kesulitan bernapas, hingga detak dan irama jantung terganggu dalam beberapa jam kemudian.

Akan tetapi tak serupa dengan akibat gigitan ular Elapidae lainnya, bisa ular sendok Jawa dan Sumatra dapat merusak jaringan di sekitar luka gigitan.

Jadi, juga bersifat hemotoksin.

Lebam berdarah di bawah kulit dapat terjadi, dan rasa sakit yang amat sangat muncul (namun tidak selalu) dalam menit-menit pertama setelah tergigit.

Sekitar luka akan membengkak, dan bersama dengan menjalarnya pembengkakan, rasa sakit juga turut menjalar terutama di sekitar persendian.

Lebam lama-lama akan menghitam dan menjadi nekrosis.

Dalam pada itu, kemampuan pembekuan darah pun turut menurun.

Tanpa gejala-gejala di atas, kemungkinan tidak ada racun yang masuk ke tubuh, atau terlalu sedikit untuk meracuni tubuh orang.

Namun juga perlu diingat, bahwa umumnya gigitan ular -berbisa atau pun tidak- hampir pasti menumbuhkan ketakutan atau kekhawatiran pada manusia.

Telah demikian tertancam dalam jiwa kita manusia, anggapan yang tidak tepat, bahwa (setiap) ular itu berbisa dan (setiap) gigitan ular akan mengakibatkan kematian.

Pada kondisi yang yang berlebihan, rasa takut ini dapat mengakibatkan syok (shock) pada si korban dengan gejala-gejala yang mirip.

Korban akan merasa lemah, berkeringat dingin, detak jantung melemah, pernapasan bertambah cepat dan kesadarannya menurun.

Bila terjadi, syok ini penting untuk ditangani karena dapat membahayakan jiwa pula.

Akan tetapi ini bukanlah gejala keracunan sehingga sangat penting untuk mengamati perkembangan gejala pada korban gigitan untuk menentukan tindakan penanganan yang tepat. (*)

Artikel ini telah tayang di Grid.id dengan judul Korban Gigitan Ular Kobra Semakin Bertambah, Benarkah Bawang Merah Bisa Jadi Penawar Racun Kobra?

Editor: Edi Yusmanto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved