Pakar Herpetologi Ungkap Kenapa Ada Orang 'Merasa' tak Mempan (Kebal) saat Digigit King Kobra
Pakar Herpetologi LIPI Ungkap Kenapa Ada Orang 'Merasa' tak Mempan (Kebal) saat Digigit King Kobra
BANGKAPOS.COM--Pakar Herpetologi LIPI Ungkap Kenapa Ada Orang 'Merasa' tak Mempan (Kebal) saat Digigit King Kobra
Pakar herpetologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy angkat bicara soal aksi Norjani, pawang ular asal Desa Pak Utan, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, berujung maut.
Amir juga menjelaskan kesalahpahaman yang menyebut ada orang yang kebal alias tidak mempan terhadap racun bisa king kobra.
Amir mengimbau masyarakat agar menyadari ular king kobra adalah hewan liar yang berbahaya.
"Ular king kobra merupakan jenis top predator, yang memiliki bisa berbahaya dan karakteristik unik.
Pada dasarnya, ular itu bukan untuk dipelihara layaknya ayam atau anjing," kata Amir saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Selasa (28/1/2020).
Amir menjelaskan, belajar dari kasus Norjani, masyarakat perlu memahami karakter dan bagaimana harus bersikap ketika mendapat gigitan ular tersebut.
"Sebagai top predator, king kobra sebagian besar memangsa ular, atau bisa juga biawak dan hewan lainnya.
Untuk itu, populasinya sering ditemukan di dalam hutan atau jauh dari pemukiman warga," katanya.
"Lalu, yang kedua adalah kemampuan dry bite dari king kobra.
Dry bite adalah kemampuan ular untuk tidak mengeluarkan racun saat menggigit," tambahnya.
Kemampuan dry bite tersebut, menurut Amir, sering dianggap orang merasa "mempan" ketika digigit ular king kobra.
"Jika digigit ular tersebut, mau tidak mau harus segera dilarikan ke rumah sakit agar mendapat anti-venom," katanya.
Amir juga menyebut, king kobra adalah ular jenis Ophiophagus atau pemakan ular.
Pentingnya edukasi ke masyarakat
Amir menyebut, kasus Norjani bukanlah yang pertama kali di Indonesia.
Untuk mencegah korban gigitan ular bertambah, pemerintah terus melakukan edukasi terkait ular berbisa.
Tujuannya, menurut Amir, agar mencegah konflik ular dengan manusia dan tentunya menjaga populasi ular.
"Kasus Norjani seharusnya menjadi pelajaran berharga.
Untuk itu, ular terpanjang dan berbisa didunia tersebut seharusnya masuk ketagori hewan dilindungi.
Tujuannya, mencegah konflik dengan manusia dan mengontrol populasinya," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan Norjani, seorang pawang ular di Desa Pak Utan, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, tewas digigit ular king kobra saat sedang beratraksi, Sabtu (25/1/2020).
Video atraksi Norjani bermain dengan ular king kobra hingga digigit pun menjadi viral di media sosial.
Dari postingan akun Instagram @ndorobeii, tampak pria yang hanya memaki celana pendek tanpa mengenakan baju itu berkali-kali dipatok kobra yang ukurannya cukup besar.
Gigitan pertama di tangan sebelah kanan, gigitan kedua di bagian kening.
Namun, pria itu hanya tertawa sambil memukul-mukul kepala ular tersebut.
Namun, pada video berikutnya, tampak pria itu berada di dalam sebuah ruangan dalam kondisi lemas.
Saat dikonfirmasi, Kapolsek Toho Iptu Dede Hasanudin mengatakan, peristiwa itu terjadi di Dusun 1 RT 002 R W001 Desa Pak Utan, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Sabtu (25/1/2020).
"Benar memang ada warga yang juga diduga pawang ular yang dipatok ular dan akan dimakamkan hari ini, namanya Norjani alias Nek Tadong warga Desa Pak Utan, Toho," ujar Dede, Senin (27/1/2020).
Awalnya, Norjani sekitar pukul 16.00 waktu setempat di sekitaran rumah korban melakukan atraksi bersama ular king kobra.
Pada saat atraksi itu, kobra menggigit tangan sebelah kanan dan kening Norjani.
Setelah digigit, atraksi dihentikan dan Norjani dilarikan ke klinik.
Namun, nyawanya tidak dapat diselamatkan.
"Sekitar pukul 18.30 korban di bawa ke klinik susteran yang terletak di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak dan sempat ditangani.
Tetapi nyawa korban tidak tertolong dan korban meninggal dunia," ujar Dede.
Namun, bagaimana nasib ular tersebut kini?
Dede mengatakan, pascamenggigit dan menewaskan Norjani, ular king kobra sepanjang 5 meter itu dibunuh oleh keluarga korban.
"(Ularnya) sudah dibunuh sama keluarganya," kata Dede.
Dede menerangkan, berdasarkan keterangan keluarga, ular itu ditemukan Norjani seminggu yang lalu.
"Korban itu biasa pelihara binatang, termasuk ular kobra," ujar Dede.
Selain itu, di Desa Pak Utan, Norjani dikenal pula sebagai dukun kampung atau biasa mengobati warga-warga sakit dengan teknik tradisional.
"Ya memang pandai mengobati orang dengan teknik tradisional atau dikenal sebagai dukun kampung," ungkap Dede.
Habitat Ular kobra mudah ditemukan daerah tropis, Afrika Selatan, kemudian ke pulau-pulau di Asia.
Di Indonesia, ular kobra banyak ditemukan di tengah hunian warga saat ini.
Di Indonesia, ular kobra cenderung berwarna hitam atau coklat tua.
Di bagian kepala cenderung berwarna lebih terang, sisik bawah tubuh berwarna keabuan.
Untuk dada dan leher berwarna kuning cerah dengan pola belang hitam tidak teratur.
Racun Ular korba mempunyai racun berjenis haemotoxcin dan neurotoxcin.
Racun ini bisa melumpuhkan saraf-saraf dan otot-otot korban dalam waktu hanya beberapa menit saja.
Ini juga bisa mempengaruhi pernapasan.
Obat antivenin harus diberikan segera setelah gigitan.
Karena ribuan kematian terjadi setiap tahunnya di Asia Selatan dan Tenggara.
Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), gigitan ular yang lebih besar bisa berakibat fatal tergantung pada jumlah racun.
Orang yang digigit kobra usahakan tidak banyak bergerak. Ini agar peredaran darah tidak bertambah cepat.
Jika mungkin membaluk di bagian tubuh antara luka dengan jantung, ini untuk memperlambat tapi tidak menghentikan alirah darah jatung. Segera membawa ke rumah sakit untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
Pakar Herpetologi LIPI Ungkap Kenapa Ada Orang 'Merasa' tak Mempan (Kebal) saat Digigit King Kobra
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kronologi Pawang Ular di Kalbar Tewas Digigit King Kobra Saat Atraksi", "Fakta Pawang Ular di Kalbar Tewas Digigit King Kobra Saat Atraksi, Dikenal Sebagai Dukun", "Belajar dari Kasus Pawang Ular Tewas Digigit King Kobra, Ahli: Itu Hewan Liar Berbahaya..."