HORIZZON
Bersiap untuk Lockdown
Kita berpikir seolah-olah Tuhan hanya punya satu skenario kematian untuk umatnya, yaitu Corona.
Lalu apakah mereka tidak dalam posisi terancam? Ah tentu sama saja, yang namanya virus itu cepat menyebar dengan adanya interaksi. Namun bukan soal itu tentu yang perlu didiskusikan.
Saat kepanikan dari corona ini muncul lantaran risiko kematian yang massif, bukankah kita sejak awal meyakini bahwa kematian itu memang dekat dengan kita? Bukankah Tuhan juga masih memiliki 1001 skenario kematian, yang masing-masing orang telah digariskan?
Bahkan, bukankah setiap umat yang hidup ujungnya adalah kematian? Bukankah kematian adalah sesuatu yang pasti. Atau kita semua ingin menjadi Firaun yang mencoba menentang kematian dari Tuhan?
Risiko kematian
Catatan sebelumnya mengupas banyak hal soal corona yang perlu untuk kita diskusikan ulang. Ada data kuantitatif yang tidak perlu kita debat secara kualitatif dan cukup untuk kita pahami saja.
Data Arcgis by John Hopkins CSSE pada Selasa (10/3/2020) pukul 12:00 WIB, virus corona telah menjangkit 112 negara dengan total 114.448 kasus. Kita sengaja memakai data ini, karena data paling update menunjukkan hasil tingkat kesembuhan yang lebih baik.
China Daratan masih menjadi negara dengan kasus corona terbanyak, yakni 80.754 kasus terkonfirmasi, dengan 3.136 kasus kematian dan 59.885 kasus yang berhasil sembuh.
Dari angka angka tersebut, dapat disampaikan dengan cara berbeda dan lebih membantu membangkitkan logika adalah, dari seluruh kasus yang terjadi di Tiongkok, 74% kasus berhasil disembuhkan dan akan tumbuh imunitas.
Dari total kasus yang terjadi, akibat fatat dari kasus ini tercatat di angka 4%. Angka 4% inilah yang tidak perlu kita kualitatifkan, apakah besar atau kecil. Kita cukup melihatnya bahwa kematian akibat corona ini adalah 4%, selesai.
Melihat prosentase tersebut, banyak penyakit yang sebenarnya memiliki tingkat prosentase kematian yang lebih besar dibanding corona. Inilah maka perlu kita ulangi lagi bahwa hingga saat ini, Tuhan masih memiliki sejuta skenario kematian untuk umat-Nya.
Apakah kemudian catatan ini dimaksudkan untuk mengajak kita semua santai menghadapi corona ini? Tentu tidak. Menghadapi virus yang super aktif ini perlu disikapi secara istikomah. Sebagai bangsa yang besar, tentu boleh kita berdebat tentang bagaimana negara ini menghadapi corona.
Bolehlah di fase-fase ini ada ketidakpercayaan dengan cara pemerintah menyikapi corona. Boleh juga kita usul bagaimana sebaiknya kita melawan corona.
Namun ada titik dimana seluruh elemen bangsa harus percaya dengan pemerintah yang tentunya memiliki informasi dan analisa yang lebih komplet untuk mengambil langkah-langkah tepat.
Menghadapi corona ini dibutuhkan langkah yang akurat dan kita percaya pemerintah pusat tengah memikirkan itu. Kita percaya segala sesuatu tengah diperhitungkan dan kita juga harus percaya pemerintah tak pernah ragu untuk memutuskan langkah yang tepat.
Saat tiba waktunya, sang dirijen menentukan langkah, yang bisa kita lakukan adalah mengikuti irama yang akan dimainkan. Bahkan jika memang lockdown atau dalam bahasa yang lebih mudah adalah mengkarantina diri sendiri secara bersamaan menjadi langkah yang harus dilakukan, kita semua harus siap.
Ini bukan lagi soal politik, ini bukan soal suku, ras atau atau agama, ini soal bagaimana kita memperjuangkan peradaban umat manusia. Kita menunggu presiden menentukan langkah, dan itulah saatnya kita tidak lagi berdiskusi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)