New Normal Gagal, Korea Selatan Kembali Perketat Pembatasan Sosial
Korea Selatan kembali menerapkan sejumlah tindakan pembatasan sosial di ibukota Seoul setelah terjadinya lonjakan terbaru kasus infeksi virus corona.
Sementara pada Jumat (29/5/2020) KCDC melaporkan ada 58 kasus baru di Korsel.
Para pejabat mengatakan otoritas kesehatan semakin sulit melacak rute penularan untuk infeksi baru dan mendesak orang untuk tetap waspada di tengah kekhawatiran gelombang kedua infeksi Covid-19.
Lonjakan kasus baru-baru ini menunjukkan risiko yang mungkin terjadi bila aturan jarak sosial dilonggarkan, padahal saat ini banyak negara sedang berusaha memulihkan perekonomian mereka dengan rencana pelonggaran pembatasan sosial.
Lebih dari 250 kasus infeksi baru terlacak berasal dari klub dan bar di distrik Itaewon, Seoul pada awal Mei, sementara klaster terbaru telah dikaitkan dengan pusat distribusi di Bucheon, dekat Seoul, yang dimiliki oleh perusahaan e-commerce Coupang.
Otoritas kesehatan setempat telah menguji sekitar 3.500 dari 4.000 karyawan, kata kantor berita Yonhap, dan hasilnya 69 kasus dikonfirmasi sejauh ini.
Perusahaan dilaporkan gagal untuk menegakkan tindakan pencegahan, seperti mewajibkan karyawan untuk mengenakan masker dan menjaga jarak fisik aman sekitar dua meter.
Pembukaan sekolah ditunda
Kementerian Pendidikan Korea Selatan menyebut bahwa peningkatan kasus baru-baru ini telah memengaruhi pembukaan kembali sekolah secara bertahap. Lebih dari 500 sekolah telah menunda dimulainya kembali kelas karena kondisi ini.
Pada hari Kamis mengikuti laporan 40 kasus baru pada hari Rabu yang merupakan angka tertinggi dalam tujuh pekan terakhir. Korea Selatan telah melaporkan total 11.344 kasus dan 269 kematian akibat Covid-19.
Direktur KCDC, Jeong Eun-kyeong, mengatakan negara itu mungkin perlu kembali menerapkan pembatasan sosial ketat yang sempat dilonggarkan pada bulan April.
Pelonggaran ini kemudian mendorong sejumlah besar orang untuk kembali berkumpul di bar dan restoran.
Jeong memperingatkan bahwa peningkatan aktivitas masyarakat membuat petugas kesehatan lebih sulit untuk melacak transmisi virus.
"Jumlah orang atau lokasi yang harus kita lacak meningkat secara geometris. Kami akan melakukan yang terbaik untuk melacak kontak dan menerapkan tindakan pencegahan, tetapi ada keterbatasan untuk apa yang dapat kami lakukan," kata Jeong.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ilustrasi-virus-corona-korea-selatan213131231.jpg)