Sabtu, 11 April 2026

Opini

Harga Karet Terjepit, Petani Karet Menjerit, Kami Butuh Solusi Kongkrit

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga karet dan mencoba menarik benang merah untuk menemukan solusi dari polemik ini.

Editor: Teddy Malaka
Penulis Buku/Mahasiswa
Ramsyah Al Akhab 

SUDAH cukup lama petani karet Bangka Belitung Menjerit. Tiap-tiap hari selalu dihadapkan dengan harga karet yang pahit. Sudah biasa menahan perut dengan rasa sakit. Petani kita butuh solusi kongkrit. Bukan orasi tanpa implementasi.

Tulisan ini mencoba memaparkan kondisi lapangan para petani karet Bangka Belitung sekarang. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga karet dan mencoba menarik benang merah untuk menemukan solusi dari polemik ini.

Sampai saat ini harga karet di Bangka Belitung selalu berkisar dari angka 5.000 rupiah ke bawah per kilo. Hal ini tentu tidak sepadan dengan usaha dan harga kebutuhan bahan pokok sekarang.

Bisa dikatakan petani karet hanya sekadar bisa untuk melangsungkan hidup besok, bahkan bisa jadi kurang untuk kehidupan besok.

Harga ini, Bila kita bandingkan dengan harga karet di luar Bangka tentu berbeda. Sumatera Selatan memiliki harga karet yang berkisar rata-rata 9.000 rupiah per kilo. Lalu pertanyaan besarnya, apa penyabab perbedaan harga ini?

Jawaban umum yang akan diterima adalah adanya perbedaan kualitas karet.

Sangat umum sekali petani karet Bangka Belitung masih menggunakan tawas sebagai pengeras karet. Sehingga kualitas karet menjadi jelek karena banyak mengandung air.

Hal ini tentu berbeda saat menggunakan asap cair yang umum di Sumatera Selatan sehingga kandungan airnya sedikit dan menghasilkan kualitas karet yang baik.

Sampai saat ini hanya ada sekitar 5% masyarakat Bangka Belitung yang menggunakan asap cair. Sayangnya sampai sekarang harga di lapangan Bangka Belitung tidak memberikan perbedaan harga antara karet yang menggunakan tawas dan asap cair. Harga dipukul rata. Tentu ini membuat masyarakat berpikir rugi bila menggunakan asap cair yang harganya lebih tinggi dari tawas.

Bangka Belitung sekarang memiliki dua unit UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar) yang terdapat di Bangka dan Belitung. Tapi sayangnya dua unit ini belum mendapat perhatian intensif dari pemerintah. Sehingga adanya UPPB di Bangka Belitung tidak memberikan efek baik yang signifikan bagi para petani karet Bangka Belitung.

Kemudian, masih panjang tangan untuk alur penjualan dari tengkulak ke perusahaan pengolahan turut pula mempengaruhi harga jual karet dari tangan petani. Semakin panjang tangan dalam proses ini maka makin murah pula nilai jual karet dari tangan petani karet.

Untuk mengatasi hal ini, upaya yang dilakukan oleh pemerintah Bangka Belitung adalah dengan membuat peraturan daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Nomor 1 Tahun 2017 tentang "Penyangga Harga Karet."

Tapi sayangnya sampai saat ini segala pasal yang ditujukan untuk kemaslahatan para petani karet Bangka Belitung hanya sekadar tulisan di atas kertas. Segala bentuk keluhan yang disampaikan hanya dijawab sekilas orasi tanpa implementasi. Dari segala fakta yang telah dipaparkan di atas, sudah seharusnya membuka pandangan kita terkait kesungguhan pemerintah untuk memperbaiki ekonomi petani karet Bangka Belitung. Baik benang merah yang didapatkan adalah baik atau buruk, penulis mengembalikannya kepada para pembaca yang budiman.

Pada bagian ini penulis mencoba memberikan beberapa poin yang dapat dijadikan pertimbangan usaha perbaikan ke depan demi kemaslahatan petani karet Bangka Belitung.

Untuk penyelesaian polemik ini tentu perlu usaha yang konsisten dari pemerintah Bangka Belitung. Usaha ini juga tidak boleh hanya dijadikan beban pemerintah daerah Bangka Belitung tetapi harus pula menjalin kerja sama sampai pemerintahan terkecil yaitu desa. Karena untuk polemik ini, seluruh lapisan harus mempunyai tujuan yang sama dan setiap lini sampai masyarakat tahu akan tugas dan fungsinya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved