Opini
Harga Karet Terjepit, Petani Karet Menjerit, Kami Butuh Solusi Kongkrit
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga karet dan mencoba menarik benang merah untuk menemukan solusi dari polemik ini.
Penulis ingin memanfaatkan peran lebih esesial pemerintahan tingkat desa untuk implementasi pada tingkat para petani karet yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah Bangka Belitung untuk kebijakan yang saling bersinambungan.
Masalah pertama adalah kurangnya edukasi terkait karet kualitas baik yang menggunakan asap cair atau sejenisnya. Sosialisasi ini baik sekali bila diimplementasikan oleh desa dari anggaran dana desa. Pemerintah cukup menjadi pengawas dalam program sosialisasi yang dilakukan oleh desa.
Pasti pembaca bertanya-tanya, kenapa harus desa? Karena lini desa adalah bagian yang paling dasar dan sudah sepatutnya paham betul kebutuhan lapangan para petani karet. Kemudian, acapkali kita melihat penggunaan dana desa yang tidak terlalu urgensi. Bukankah akankah lebih baik ada penganggaran untuk edukasi dan peningkatan kualitas masyarakat.
Hal selanjutnya yang sangat krusial adalah perbedaan harga antara karet yang menggunakan tawas dan asap cair atau sejenisnya. Karet yang menggunakan asap cair atau sejenisnya tentu menghasilkan kadar karet yang tinggi, sudah seharusnya dihargai lebih tinggi.
Untuk hal ini pemerintah memegang peran penting untuk membuat kebijakan harga pembelian di lapangan yang membedakan harga tiap-tiap kualitas karet. Kalau semua di pukul rata, tentu tidak ada keadilan di lapangan ekonomi petani karet Bangka Belitung. Oleh karenanya pemerintah harus cakap dalam membuat kebijakan yang dapat memberikan ruang keadilan untuk harga karet.
Untuk mengatasi panjangnya regulasi penjualan karet dari tangan petani karet dapat diatasi dengan memanfaatkan peran BUMD (Badan Usaha Milik Desa). Penulis ingin mengajak pembaca yang budiman untuk lebih memikirkan peran BUMD yang lebih utuh manfaatnya kepada masyarakat. Bila karet kualitas baik ini dikumpulkan di BUMD dan dijual langsung ke perusahaan tentu dapat memotong alur penjualan dan memainkan harga beli yang merakyat dari petani karet Bangka Belitung.
BUMD juga dapat menjadi penyetok untuk ketersediaan asap cair atau sejenisnya. Jangan sampai petani karet kesulitan menemukan asap cair atau sejenisnya. Bila dibandingkan kreativitas BUMD di Bangka Belitung yang umumnya hanya berupa toko kelontong, lebih kongkrit perannya sebagaimana ide di atas. Karena BUMD yang diolah menjadi toko kelontong hanya akan menjadi pesaing untuk toko kelontong masyarakat di sekitarnya dan mematikan peran BUMD yang seharusnya membangun kreativitas ekonomi.
Hal terakhir, untuk menyamakan gagasan dan tujuan dari lini pemerintah daerah sampai ke masyarakat maka diperlukan alat yang dapat menjadi proganda. Sederhananya kita memerlukan spanduk, reklame, poster atau sejenisnya yang dapat mengiklankan ide tersebut lalu di sebarkan ke seluruh pelosok Bangka Belitung. Tujuannya agar masyarakat Bangka Belitung tertanam betul ide ini, menghasilkan karet kualitas baik, memotong jalur penjualan, keadilan harga karet, dan pemanfaatan peran Desa. Jangan sampai propaganda yang esensinya adalah untuk kemaslahatan petani karet tidak ada tetapi saat pencalonan malah marak di mana-mana.
Sebagai penutup, penulis kembali menegaskan bahwa untuk memastikan semua hal ini dapat berjalan dengan baik tentu perlu kerja sama yang kongkrit dan intensif dari pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat dan UPPB. Masyarakat tahu akan pentingnya kualitas karet, pemerintah desa paham akan edukasi, pemerintah daerah kongkrit dengan kebijakan dan pengawasan, serta UPPB sejalan dengan kemaslahatan petani karet Bangka Belitung.
Penulis: Ramsyah Al Akhab (Penulis Buku/Mahasiswa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ramsyah-al-akhab.jpg)