Horizzon

Boleh Memilih jadi Pengecut

Saat pers dimanfaatkan untuk sebuah niat jahat, maka kita bisa berdebat bahwa posisi pers hanyalah menjadi alat, sehingga pendekatan di luar UU Pers

|
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pimred BANGKA POS GRUP 

KETIKA ideologi dijadikan sudut pandang utama, maka pers akan selalu setia mendampingi peradaban manusia.

Perspektif ideologis inilah yang akan terus menjaga, sekaligus menyirami sema­ngat pers yang juga lahir untuk mengawal demokrasi, seka­ligus peradaban manusia.

Kejujuran, ketulusan, keberimbangan ditambah dengan etika yang selalu melekat dengan pers akan menjamin eksistensi pers.

Namun berbeda ketika kita bergeser memandang pers dari perspektif bisnis. Padahal sisi bisnis bagi pers juga penting dimaknai, sebab konon sisi bisnis dari pers ini juga diyakini menjadi bagian dari nyala api idealisme pers itu.

Dari perspektif bisnis, perbedaan sudut pandang dari masing-masing dapur redaksi akan dimaknai sebagai kepentingan bisnis belaka.

Perbedaan sudut pandang dari masing-masing dapur redaksi tak lagi berperan sebagai ruang diskursus, yang memperkaya khasanah demokrasi.

Perbedaan sudut pandang dari masing-masing dapur redaksi tak lagi menjadi substansi dari demokrasi itu sendiri.

Saat kita bicara pers dari sisi bisnis, maka diskusi selanjutnya bisa dipastikan akan lari ke pragmatisme. Dan semua tahu, pragmatisme adalah sesuatu yang paling mengancam eksistensi idialisme.

Pragmatisme selalu mengedepankan motif ekonomi, dimana akan selalu berujung pada pertimbangan untung-rugi, jauh dari pertimbangan baik-buruk apalagi pantas dan tidak pantas.

Pragmatisme dalam teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow bisa dimaknai pada tataran terendah fase kebutuhan manusia, yaitu fisiologis, dimana demi terpenuhunya kebutuhan fisiologis, menciderai lawan dan bahkan membunuh kawan bukanlah sesuatu yang diharamkan.

Pragmatisme benar-benar menanggalkan nilai, lupa akan etika. Bahkan selevel rasa malu saja sudah diabaikan, meski secara munafik mulut masih berteriak lantang mengatasnamakan kebebasan pers.

Untuk itu, ketika bisnis semata yang menjadi fondasi dasar membangun sebuah lembaga pers, tak heran jika mazab yang digunakan adalah pragmatisme. Tak jarang, pola-pola barbar muncul pada perilaku mereka yang ada di dalamnya.

Lantaran tak ada lagi rasa malu, media yang dibangun hanya dari sisi bisnis, maka praktik mengenakan seragam usang yang sudah ditanggalkan demi mencuri kue milik orang juga bukan hal yang dianggap memalukan.

Asal bisa bersiasat dan merasa aman menabrak norma kepatutan, maka pragmatisme mengajarkan itu sebagai suatu kewajaran.

Pragmatisme juga membutakan se­seorang. Ia me­nganggap orang lain tolol dan tak memahami bahwa apa yang dilakukan bukanlah sesuatu yang berpotensi pidana. Padahal itu semua tak lebih dari pembiaran yang disengaja oleh si pemilik kue, yang sebenarnya tersenyum saat melihat ada yang mencurinya.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved