Horizzon

Boleh Memilih jadi Pengecut

Saat pers dimanfaatkan untuk sebuah niat jahat, maka kita bisa berdebat bahwa posisi pers hanyalah menjadi alat, sehingga pendekatan di luar UU Pers

|
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pimred BANGKA POS GRUP 

Tak mudah memang mengajak semua pihak memandang apalagi membangun pers dari perspektif ideologis.

Apalagi, tampaknya kita juga masih harus mengajari banyak hal tentang cara berteman sekaligus berkompetisi.

Bukan hanya soal kompetisi sehat berebut kue, tapi bagaimana berkompetisi pada hal yang lebih fundamental, yaitu bagaimana membangun sebuah nilai.

Agak mengherankan memang, ternyata kita masih harus belajar tentang cara bersikap, ketika ada kawan ‘terpeleset’ prosedur jurnalistik dan harus menanggung konsekuensi.

Diam dan memahami bahwa situasi sebaliknya bisa menimpa diri sebenarnya adalah pilihan paling aman sekaligus terhormat.

Meski tak pernah ada konvensi yang membahasnya, namun kesepakatan dalam diam mestinya dipahami oleh mereka yang paham bagaimana menjaga marwah dan masa depan profesi ini.

Apakah sikap diam tersebut adalah bentuk upaya bersama melegitimasi, bahwa pers adalah insan yang dan tidak bisa tersentuh? Tentu tidak.

Pers adalah bagian tak terpisahkan, dari elemen bangsa yang tunduk dari setiap regulasi yang berlaku di negeri ini.

Namun UU No.40 tahun 1999 mengamanatkan bahwa, segala perselisihan pers termasuk kealpaan dalam proses jurnalistik harus diselesaikan dengan mengacu pada undang-undang tersebut.

Lalu bagaimana jika kita melihat ada bagian dari pers justru dengan jelas me­nyuarakan dan patut diduga ikut mendorong sebuah perselisihan pers, diselesaikan dengan mengabaikan UU No.40/1999 tentang Pers dan justru menggunakan pendekatan UU ITE?

Ada pihak yang seolah tutup mata, dan memilih mempolitisir berikut mendorong menarasikan bahwa pencabutan atau ralat sebuah berita adalah tindakan kriminal.

Me­reka mencoba menguatkan narasi bahwa kesalahan prosedur jurnalistik adalah kriminalitas yang harus dihukum.

Ya, pragmatisme benar-benar telah meracuni kehidupan pers kita, setidaknya di sekitar kita. Mereka tak sadar, kalaupun hasutan mereka berhasil, maka prestasi terbesar yang diperoleh hanyalah memenjarakan satu dua orang. Walaupun semua tahu, untuk memenjarakan rival yang sebenanrnya adalah kawan itu bukan hal mudah. 

Mereka yang tengah terbius racun pragmatisme tak pernah menyadari, menikam kawan sendiri sebenarnya adalah tindakan nyata membunuh kebebasan pers itu sendiri. Tarian barbar saat mereka dengan bangga memposting sekaligus memperolok kawan itu membuatnya lupa bahwa kawan yang sedang diperoloknya bukanlah orang lemah.

Mereka lupa, sekuat apapun pukulan yang dilakukan sebenarnya ia sadari tak lebih dari tarian jemari yang membuat orang yang diposisikan sebagai lawan merasa geli. 

Sumber: bangkapos.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved