Selasa, 12 Mei 2026

Gejolak Panas Amerika vs China, Donald Trump Cabut 1.000 Visa, Dituding Mata-mata dan Pencuri

Kebijakan pencabutan visa tersebut dilakukan Donald Trump sebagai bentuk tanggapan terhadap China yang memberlakukan UU Keamanan Nasional

Tayang:
Editor: Hendra
Doug Mills-Pool / Getty Images
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump 

BANGKAPOS.COM, - Dinilai berisiko mengancam keamanan nasional, Donald Trump perintahkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ( AS) mencabut visa 1.000 warga negara China di bawah mandat presiden 29 Mei.

Dia tak ingin pelajar dan peneliti dari China masuk yang imbasnya mengganggu keamanan nasional.

Pejabat kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, Chad Wolf, mengatakan sebelumnya bahwa Washington memblokir visa "mahasiswa pascasarjana dan peneliti China tertentu yang terkait dengan strategi fusi militer China, untuk mencegah mereka mencuri dan melakukan penelitian sensitif."

Mengutip laporan dari Al Jazeera pada Kamis (10/9/2020), dalam pidatonya, Wolf mengulangi tuduhan AS atas praktik bisnis yang tidak adil dan spionase industri oleh China, termasuk upaya untuk mencuri penelitian virus corona, dan menuduhnya menyalahgunakan visa pelajar untuk mengeksploitasi akademisi AS.

Wolf mengatakan AS juga bahwa langkah tersebut untuk "mencegah barang-barang yang diproduksi dari tenaga kerja budak memasuki pasar kami, menuntut agar China menghormati martabat yang melekat pada setiap manusia".

Pernyataan yang jelas ditujukan untuk dugaan pelecehan Muslim di wilayah Xinjiang, barat China.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan kepada kantor berita Reuters pada Rabu, bahwa kebijakan pencabutan visa tersebut dilakukan Donald Trump sebagai bentuk tanggapan terhadap China yang memberlakukan UU Keamanan Nasional baru di Hong Kong.

"Pada 8 September 2020, departemen telah mencabut lebih dari 1.000 visa warga negara China yang ditemukan, untuk mengimplementasikan Proklamasi Presiden 10043 dan karena itu tidak memenuhi syarat untuk visa," kata juru bicara yang tidak disebutkan namanya, menggunakan inisial untuk China.

Dia mengatakan "mahasiswa pascasarjana dan peneliti yang berisiko tinggi " tidak memenuhi syarat mewakili "sebagian kecil" orang China yang datang ke AS, untuk belajar dan melakukan penelitian.

Sementara, pelajar dan cendekiawan yang sah akan tetap disambut.

Hubungan yang memburuk

China mengatakan pada Juni bahwa mereka menentang setiap langkah AS untuk membatasi siswa China yang belajar di AS.

Kemudian, mendesak Washington untuk berbuat lebih banyak ke arah peningkatan pertukaran ilmu dan pemahaman bersama.

Sekitar 360.000 warga negara China belajar di AS, menghasilkan pendapatan yang signifikan untuk pendidikan tinggi, meski pun pandemi Covid-19 telah sangat mengganggu semester baru.

Sebelumnya, beberapa mahasiswa China yang terdaftar di universitas AS mengatakan bahwa mereka menerima pemberitahuan melalui email pada Rabu (9/9/2020), dari Kedutaan Besar AS di Beijing atau konsulat AS di China, yang menginformasikan bahwa visa mereka telah dibatalkan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved