Horizzon
Antara Terpapar dan Baik-baik Saja
Frasa, `baik-baik saja' sering dipilih lantaran frasa ini sering kalah peran dengan frasa lain yang belakangan menjadi sangat dominan.
ALHAMDULILLAH, Saya Baik-baik Saja. Frasa yang kemudian menjadi judul berita headline tersebut sesungguhnya mengandung pesan sarat makna.
Frasa, `baik-baik saja' sering dipilih lantaran frasa ini sering kalah peran dengan frasa lain yang belakangan menjadi sangat dominan. Frasa tersebut adalah `terkonfirmasi positif.'
Belum lama ini, kita juga memilih frasa `baik-baik saja' untuk memotret apa yang dialami Novel Baswedan, penyidik senior KPK yang terkonfirmasi positif terpapar Covid-19 bersama anggota keluarganya yang lain. Kita ingin mengatakan, meski terkonfirmasi positif, Novel Baswedan baik-baik saja.
Pesan serupa ingin kita sampaikan saat Direktur RSUD Depati Hamzah, Pangkalpinang, dr M Fauzan dikabarkan terpapar Covid-19. Dokter Fauzan memang betul terpapar Covid-19, namun yang juga perlu diketahui publik, yang bersangkutan baik-baik saja alias sehat.
Kita juga masih ingat bagaimana Mikron Antariksa, kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Babel yang juga akhirnya berstatus positif. Kita konsisten memilih frasa Mikron baik-baik saja. Dan alhamdulillah, bersamaan dengan dokter Fauzan dinyatakan positif, Mikron Antariksa sudah boleh meninggalkan balai karantina lantaran statusnya sudah terbebas dari paparan Covid-19.
Kita sengaja mengabaikan istilah OTG atau orang tanpa gejala yang sering dilekatkan pada orang yang terpapar corona namun tidak menunjukkan gejala apa pun. Kita ingin dengan tegas mengatakan bahwa mereka ini baik-baik saja alias tetap sehat.
Lalu bagaimana dengan mereka yang meninggal dunia saat berstatus terpapar Covid-19? Agak sulit menjelaskan soal ini dan mencoba memisahkan antara kematian dan Covid-19. Namun yang pasti, mereka yang meninggal tentu memiliki penyakit bawaan dan medis pun sebenarnya masih ragu untuk dengan tegas mengatakan bahwa Covid-19 menjadi penyebab kematiannya secara langsung.
Catatan tambahan kenapa frasa `baik-baik saja' ini menjadi penting adalah momentum terkini di mana sejumlah daerah tampak meningkatkan eskalasi pengetatan akibat penambahan kasus yang dinilai mengkhawatirkan. Selain itu, belakangan juga mulai masif dilakukan razia penggunaan masker oleh aparat keamanan.
Namun yang perlu menjadi catatan penting pengambil kebijakan adalah masyarakat kita sudah terlalu lelah dengan situasi ini. Tak bisa dimungkiri, tujuh bulan melawan `hantu' Covid-19 yang terkesan berada di antara ada dan tiada munculnya adalah sikap apatis.
Terlebih, selain barangnya (baca:Covid-19) yang dihadapi memang berada di alam antara ada dan tiada, propaganda, kampanye dan juga regulasinya juga antara ada dan tiada. Konsep dan strategi kita melawan Covid-19 ini seperti tidak terpola dengan baik.
Kita mulai dengan regulasi rapid test yang super aneh. Pertama, saat awal muncul sebagai aturan, rapid test yang sejak awal diyakini tidak efektif ini paketnya dijual hingga Rp 500 ribu lantaran menjadi syarat untuk terbang. Belakangan, satu pak rapid test ternyata bisa diperoleh dengan maksimal Rp 150 ribu. Ada apa ini?
Masih soal rapid test sebagai prasyarat terbang yang masa berlakunya adalah 14 hari. Ini benar-benar tidak masuk dalam logika berpikir kita namun masih saja berlaku hingga saat ini. Jujur, jika kebijakan rapid test ini tidak kita sertakan dalam tulisan ini, seolah kita membiarkan terpenjara oleh kebodohan kita sendiri.
Sejak awal kita juga terbawa arus dengan melihat Covid-19 ini secara makro dan memutuskan Covid-19 sebagai pandemi. Ini juga tampak dari angka-angka yang setiap hari di-update dan menggunakan pendekatan akumulatif sehingga angka yang muncul selalu bertambah setiap hari.
Kembali mengingatkan, di dalam angka-angka yang setiap hari di-update tersebut banyak lagi yang bisa dibedah, mulai dari berapa yang benar-benar sakit, berapa yang tidak memunculkan gejala, dan berapa yang meninggal dunia.
Dari situ masih bisa lagi dibedah, dari kasus yang meninggal dunia, berapa persen yang patut diyakini meninggal murni akibat Covid-19. Bukankah secara medis juga dikenal dengan yang disebut audit kematian?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)