Horizzon
Antara Terpapar dan Baik-baik Saja
Frasa, `baik-baik saja' sering dipilih lantaran frasa ini sering kalah peran dengan frasa lain yang belakangan menjadi sangat dominan.
Saat kita memperoleh angka-angka dengan rinci, maka kita bisa benar-benar fokus menghadapi dan menangani masalah ini. Saat angka-angka tersebut bisa disusun secara detail, maka kita bisa beri tahu ke publik, berapa orang sakit karena Covid-19 dan berapa yang benar-benar meninggal karena Covid-19.
Saat angka-angka tersebut bisa disusun secara rinci, maka kita akan tahu prioritas mana yang harus ditangani. Jika terpapar tidak sama dengan sakit, lalu untuk apa kita harus khawatir dengan terpapar?
Bukan untuk meremehkan. Ini semata-mata agar kita tahu betul prioritas yang harus dilakukan untuk menghadapi Covid-19. Sebab Covid-19 saat ini tidak bisa lagi kita pandang dari sisi kesehatan semata. Covid-19 harus dipandang dari sudut pandang ekonomi dan sosial juga.
Saat Covid-19 hanya dipandang dari sisi kesehatan, maka tidak akan pernah ada diskusi soal ini. Solusinya hanya lockdown, dan kita sejak awal sudah memilih menghindari langkah yang hanya butuh 14 hari tersebut. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)