Horizzon
Saat Pandemi Jadi Diagnosis
Jika melihat kondisi sosial masyarakat, arah menjadikan covid sebagai penyakit biasa ini sudah mulai kentara.
SEPERTI biasanya, Taman Dealova Minggu (27/9/2020) sore itu terlihat ramai. Sejumlah remaja berkumpul di taman yang tak jauh dari Jembatan 12 ini untuk berolahraga.
Rata-rata mereka joging dan sebagian di antaranya bersepeda. Ada juga sebagian kecil yang sengaja ke Dealova untuk sekadar menghabiskan waktu.
Kebetulan karena lokasinya yang relatif tinggi, dari Taman Dealova ini bisa memandang Kolong Kacang Pedang dengan view latar belakang perbukitan yang cukup menawan.
Bicara soal Taman Dealova, tiba-tiba teringat dengan Teddy Malaka, seorang jurnalis di Bangka Pos yang bercerita panjang tentang asal-usul nama Dealova. Dengan penuh semangat, ia bercerita bagaimana kawasan itu dahulu begitu kumuh, kotor dan dekat dengan konotasi negatif.
Kawasan tersebut dahulu sering dijadikan tempat bagi pasangan remaja untuk melampiaskan syahwat dan birahi mudanya. Bukit Dealova juga ia tuliskan untuk menarasikan tempat lantaran banyak ditemukan alat kontrasepsi di tempat tersebut.
Entah benar, entah tidak, namun yang pasti, kawasan ini sekarang memang identik dengan nama tersebut, bukit Dealova. Namun bukan soal asal-usul nama itu yang akan kita bahas.
Kita akan bicara soal bukit Dealova yang kembali ramai menjadi venue pilihan publik Pangkalpinang untuk berolahraga maupun sekadar menghabiskan waktu. Beberapa waktu lalu, kawasan ini sempat ditutup untuk publik dengan alasan pandemi.
Petugas Satpol PP berjaga dan mengimbau pengunjung untuk meninggalkan taman Dealova dan meminta warga untuk tetap di rumah demi menghindari penyebaran Covid-19. Terhitung ada sebulan kebijakan mensterilkan kawasan ini dari publik.
Selang waktu berlalu, regulasi mulai dikendorkan. Taman Dealova boleh dikunjungi namun dengan persyaratan tertentu. Semua pengunjung diwajibkan memakai masker dan jaga jarak. Sejumlah papan imbauan juga dipasang di beberapa titik di kawasan tersebut.
Hingga Minggu (27/9/2020), tulisan tersebut juga masih terpasang di beberapa titik. Namun rupanya, tulisan tersebut tak ubahnya seperti banner calon kepala daerah yang tak seorang pun memedulikannya.
Hanya sebagian kecil pengunjung yang mengenakan masker. Sementara sebagian besar pengunjung tampak tak menggunakan masker. Warga tampak tak peduli lagi dengan imbauan atau kampanye penggunaan masker.
Dan Dealova adalah contoh kecil dari sejumlah titik di Kota Pangkalpinang. Hampir sama dengan Dealova, pasar, alun-alun, jalan-jalan, warung kopi dan tempat lainnya pemandangannya nyaris sama. Sebagian warga kita tampak enggan mengenakan masker.
Benarkah publik kita benar-benar sudah abai alias tidak takut dengan Covid-19? Jawaban ini justru muncul dari beberapa orang yang mengenakan masker yang menjelaskan alasannya mengenakan masker.
Rupanya, sebagian dari mereka yang mengenakan masker ini bukan lantaran ingin menjalankan protokol kesehatan. Beberapa orang yang memilih mengenakan masker mengaku selalu mengenakan masker saat keluar rumah lantaran khawatir akan terjaring razia masker.
Mereka mengaku enggan harus berurusan dengan petugas keamanan saat ketahuan tak mengenakan masker. Mereka khawatir takut disuruh push-up atau hukuman sosial lainnya ketika terjaring razia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)