Horizzon

Saat Pandemi Jadi Diagnosis

Jika melihat kondisi sosial masyarakat, arah menjadikan covid sebagai penyakit biasa ini sudah mulai kentara.

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pimred BANGKA POS GROUP 

Memang tidak semua orang memiliki alasan serupa terkait masker. Namun potret alasan mengenakan masker yang lebih disebabkan karena razia masker dibanding mengantisipasi penyebaran Covid-19 juga menjadi bagian yang menarik.

Kita ini sudah sangat kelelahan dengan Covid-19. Publik lebih banyak memperoleh narasi-narasi tanpa substansi terkait Covid-19 sehingga mereka menjadi tak peduli lagi.

Akhirnya inilah yang terjadi, di mana fungsi masker sudah beralih. Jika sebelumnya orang beramai-ramai mencari masker untuk berlindung dari Covid-19, kini mereka mengenakan masker untuk berlindung dari razia petugas.

Sama halnya dengan angka-angka akumulatif penyebaran Covid-19 yang dahulu setiap penambahan angka selalu menjadi topik perbincangan. Kini angka-angka tersebut tak lagi punya makna, dan sejujurnya, makna angka-angka ini sudah lebih dahulu tereduksi dibanding makna masker terkait Covid-19.

Saat simbol-simbol Covid-19 ini mulai terdegradasi, mungkinkah Covid-19 juga akan tereduksi seiring dengan berjalannya waktu? Meski entah kapan itu akan terjadi, tampaknya proses ke arah itu tak bisa dihindari.

Sangat mungkin terjadi, pada saatnya nanti orang yang terkonfirmasi positif terpapar Covid-19 hanya akan dicap sebagai orang yang tengah sakit. Sangat mungkin terjadi, Covid-19 juga akan dianggap sebagai penyakit lainnya.

Jika melihat kondisi sosial masyarakat, arah menjadikan covid sebagai penyakit biasa ini sudah mulai kentara. Kini yang juga disuarakan oleh sejumlah tenaga medis dengan mengubah pandemi menjadi diagnosis mungkin sudah saatnya. (*)

Sumber: bangkapos.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved