Breaking News
Rabu, 20 Mei 2026

Berita Pangkalpinang

Ekonomi Tambang dan Dilema Para Buruh , Ini Kata Pengamat Ekonomi

Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen STIE Pertiba, Suhardi mengatakan ekonomi Bangka Belitung sangat dipengaruhi oleh komoditas timah (pertambangan).

Tayang:
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Pekerja tambang TI di kawasan lokalisasi Parit 6 Kota Pangkalpinang tak mengindahkan teguran Wakil Wali Kota Pangkalpinang Muhammad Sopian saat meminta operasional tambang berhenti, Rabu (11/111/2020) 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen STIE Pertiba, Suhardi mengatakan ekonomi Bangka Belitung sangat dipengaruhi oleh komoditas timah (pertambangan).

"Tidak dapat dipungkiri, ketika kita membicarakan Bangka Belitung khususnya terkait dengan sosial perekonomian. Maka fokus kita hampir pasti mengarah pada timah dan lada, hal ini tidak dapat terelakkan karena Bangka Belitung sejak dahulu memang identik dengan komoditas ini," jelas Suhardi, Senin (16/11/2020).

Sejarah panjang pertimahan, memang telah menjadi komsumsi masyarakat kalangan bawah maupun atas, para buruh, penjajah, pengusaha maupun penguasa. 

"Dominasi ekonomi timah di negeri ini pun tampak dalam dukungan sektor timah pada pertumbuhan ekonomi, sehingga dalam era ekonomi modern pun agak sangat sulit bagi pengambil kebijakan dalam mengarahkan kebijakan untuk tidak beranjak dari sektor pertimahan," kata Suhardi.

"Namun sangat disayangkan, ketika kita hanya menambang timah dan menjualnya keluar dengan nilai tambah ekonomi yang masih tidak sepadan dengan kerusakan lingkungan yang harus kita tanggung. Sehingga saat ini ekspor timah sebagian besar didominasi balok dan pasir timah yang memiliki nilai tambah ekonomis yang rendah, alih-alih kita menjual dalam bentuk lain dengan proses pengolahan yang lebih baik," lanjutnya.

Hal ini menunjukan bahwa hilirisasi timah dan pengelolaan mineral ikutan harus menjadi prioritas untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal bagi ekonomi daerah.

Dijelaskannya, geliat pertimahan ini juga berdampak besar pada pekerja atau buruh yang menggantungkan nasibnya pada sektor ini.

Apalagi setelah adanya ‘legalisasi’ pada tahun 1999-an yang membuat banyaknya akitivitas penambangan illegal yang hampir merata pada setiap sudut negeri ini, yang berimbas pada kerusakan parah lingkungan dan ekosistemnya termasuk beralihnya pola pekerjaan masyarakat.

"Seperti kita ketahui, perekonomian Babel didukung pada komoditas, termasuk timah, lada, karet, serta sawit. Disaat sektor-sektor ini tidak mengalami kelesuan, maka dampaknya juga terasa pada geliat perekonomian. Jika kita amati, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian sejak 2013-2019 perlahan terus mengalami penurunan," kata Suhardi.

Namun, tetap memberikan kontribusi sekitar 8 hingga 10 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung, penurunan ini tentunya terjadi karena berkurangnya lokasi yang tersedia dan dapat ditambang. 

Penurunan ini tidak berarti sektor pertambangan dan penggalian tidak lagi menjadi idola. 

Hal ini dibuktikan dengan masih maraknya buruh yang bekerja pada sektor ini, data yang direlease BPS Babel per Agustus 2020.

Pekerja menurut Status Pekerjaan Utama di Bangka Belitung, Agustus 2020 (Y-on-Y) Agustus 2020, bahwa dari Jumlah Penduduk Bekerja sebanyak 699.881 orang, sebesar 42,62 persen merupakan buruh/karyawan/pegawai, tentu dari angka ini juga termasuk para buruh yang menggatungkan nasibnya pada sektor tambang timah ilegal. 

"Keberadaan buruh tambang karena desakan ekonomi, tidak ada pilihan pekerjaan yang dapat mereka lakukan guna memenuhi kebutuhan ekonomi, apalagi ketika minimnya ketersediaan lowongan pekerjaan ditambah dengan rendahnya tingkat pendidikan dan kompetensi yang mereka miliki, pilihan realistis didepan mata yang ada hanya buruh tambang ilegal," sebutnya.

Menurutnya, hampir dipastikan pekerja-pekerja seperti ini absen dari mendapatkan bantuan-bantuan sosial dari pemerintah. Mereka juga abai terhadap prosedur pekerjaan dan keselamatan, sehingga terkadang nyawapun harus berakhir di “camui”.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved