Berita Pangkalpinang
Ini Suara Hati Siswa Belajar Secara Daring di Tengah Pandemi, Perlu Ekstra Memahami Materi
Terhitung hampir delapan bulan belajar mengajar dilakukan secara daring atau dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Terhitung hampir delapan bulan belajar mengajar dilakukan secara daring atau dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Hal ini mau tak mau harus diterapkan, sebab pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini telah mengubah tatanan kehidupan disemua bidang, satu diantaranya pendidikan.
Seiring waktu berjalan, rasa bosan pun menyelimuti hati Hanna Fatimah Noor (17), satu diantara siswa yang menjalankan pembelajaran jarak jauh saat ini.
Bahkan pembelajaran ini sudah dilalui Hanna saat duduk di bangku kelas 11 hingga sekarang berada di kelas 12 SMAN 1 Pangkalpinang.
"Rutinitas kita di rumah saat ini, memang belajar secara daring. Belajar ini tidak sepenuhnya belajar, kita dikasih tugas dan materi, disuruh memahami sendiri dan nanti kalau tak paham baru kita bertanya," ungkap Hanna kepada Bangkapos.com, Senin (23/11/2020).
Tak ia pungkiri memang berat belajar secara daring, terutama pada saat memahami materi.
Apalagi dirinya tak hanya mempersiapkan untuk ujian nasional saja, tetapi untuk masuk perguruan tinggi nanti juga perlu ia perhatikan.
"Karena mengerjakan tugas jadi tuntutan itu kita kayak mengejar nilai, bukan paham atau tidaknya. Kecuali memang ada anak-anak yang ingin paham tentang materi, itu mungkin kendalanya," keluh Hanna.
Baca juga: Sekolah di Tengah Pandemi Covod-19 Tahun Depan Diperbolehkan, Tak Ada Lagi Batasan Zona
Baca juga: Penerapan Kebijakan Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19, Ini Saran Pengamat Publik
Namun ia mengakui, belajar secara langsung di sekolah dalam kondisi saat ini memang tak memungkinkan.
"Sebenarnya lebih ke diri masing-masing, misalnya saya ikut les juga secara offline, saya juga masih merasa kurang dan berusaha mengerti dari tugas yang diberikan," kata Hanna.
Menurutnya memang perlu usaha ekstra untuk memahami materi, Hanna juga belajar dari internet dalam mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi nantinya.
"Kalau memilih memang belajar di sekolah, tapi pasti ada plus minus juga. Kita sudah belajar secara offline dari dua minggu yang lalu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ada. Misal di sekolah belajar berdasarkan KD, kalau di rumah enaknya, kita bisa menyesuaikan pembelajaran sendiri, apalagi saya di sini patokan bukan buat ngejar UAS tetapi lebih ke PTN," kata Hanna.
Sementara itu, Rafika (15), siswa kelas 9 SMPN 2 Pangkalpinang juga mengeluhkan hal yang serupa.
"Kalau kita offline masih belum belajar, masih secara daring. Pasti ada kelebihan dan kekurangan dalam belajar seperti ini. Kelebihan mungkin mengerjakan tugas bisa lebih santai dan ada deadline. Tetapi ketika dikasih materi, susah dalam memahaminya karena mau nanya secara langsung belum bisa" keluh Fika.
Rasa bosan pasti ada, hal yang dilakukan menghilangkan kejenuhan saat usai mengerjakan tugas dengan menonton film.
Namun tak ia pungkiri, belajar di sekolah tetap menjadi keinginan saat ini. Pasalnya ia merindukan belajar bersama teman-teman dan guru di sekolah.
"Harapannya semoga pandemi cepat selesai, bisa masuk sekolah secara langsung lagi dengan aman. Apalagi sudah kelas 9, ditakutkan susah masuk SMA bila tidak ada ilmu yang memadai," harap Fika.
( Bangkapos.com / Cici Nasya Nita )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/pelajar-belajar-di-rumah.jpg)